Mendag Pastikan Program MBG Tidak Ganggu Stabilitas Harga Ayam

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan program Makan Bergizi Gratis atau MBG tidak menyebabkan lonjakan harga daging ayam ras di pasar.

Ditemui di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu, Budi mengatakan adanya program MBG justru membuat produksi ayam lebih terukur karena ada kepastian permintaan sehingga harganya relatif stabil.

Menurutnya, fluktuasi harga ayam sebelumnya lebih banyak dipengaruhi naik-turunnya permintaan pasar. Saat permintaan tidak menentu, produksi ikut menyesuaikan sehingga harga mudah bergejolak.

"Kalau dulu harga naik-turun karena permintaannya naik-turun. Permintaan naik turun, harga menjadi naik-turun. Justru sekarang ketika permintaan itu grafiknya begini (naik), ada kepastian. Justru produksi itu ngikutin ya, linear gitu, ngikutin permintaan sehingga harga malah cenderung stabil," kata Budi.

Ia menekankan masyarakat perlu melihat kondisi harga secara menyeluruh. Tidak ada lonjakan harga ayam secara tiba-tiba akibat program MBG.

"Apakah terus tiba-tiba harga melonjak karena MBG? Kan nggak ada, semua harga kan bagus juga," ujarnya.

Budi menambahkan bahwa dari diskusi dengan pelaku usaha, termasuk UMKM dan produsen ayam, kepastian permintaan dari MBG justru membantu mereka meningkatkan produksi secara konsisten.

Pemerintah juga memastikan pemantauan harga dan pasokan terus dilakukan untuk menjaga stabilitas menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional Ramadan dan Idulfitri.

"Ini justru bagus, karena kami produksinya terus meningkat, dan pasti karena permintaan menjadi pasti. Kalau dulu, permintaan naik-turun kan tergantung pasar," imbuhnya.

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok per 13 Februari 2026, harga daging ayam ras tercatat Rp40.259 per kilogram. Telur ayam ras Rp30.570 per kilogram, telur medium Rp13.640 per kilogram, Minyakita Rp16.020 per liter, dan cabai rawit Rp73.609 per kilogram.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka