Tidak semua pasien berusia 70 tahun memiliki kondisi tubuh yang sama. Karena itu terapi tidak bisa disamaratakan dan harus melalui penilaian khusus sebelum menentukan jenis maupun dosis pengobatan
Jakarta (KABARIN) - Bagi banyak orang, keberhasilan terapi kanker sering kali diukur dari satu hal: angka kesembuhan atau survival rate. Namun menurut dr. Daniel Rizky, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi lulusan Universitas Diponegoro, ukuran itu tidak cukup.
“Keberhasilan terapi tidak hanya diukur dari angka survival rate, tetapi juga dari respon tumor terhadap pengobatan serta kualitas hidup pasien,” ujarnya.
Artinya, terapi yang ideal bukan hanya yang mampu menekan sel kanker, tetapi juga tetap menjaga kondisi pasien agar tidak semakin memburuk.
Masih banyak anggapan bahwa pengobatan kanker pada lansia selalu berisiko tinggi. Padahal, perkembangan dunia medis kini menghadirkan regimen terapi yang lebih ramah bagi pasien usia lanjut.
Tantangan terbesar dalam penanganan kanker pada lansia bukan semata soal usia, melainkan kondisi frailty index — tingkat kerapuhan biologis pasien yang tidak selalu sejalan dengan usia kronologisnya.
“Tidak semua pasien berusia 70 tahun memiliki kondisi tubuh yang sama,” jelas Daniel.
Karena itu, terapi harus dipersonalisasi. Dokter akan mempertimbangkan jenis dan stadium kanker, fungsi organ, penyakit penyerta, hingga tingkat kebugaran pasien sebelum menentukan jenis serta dosis pengobatan.
Peran Penting Keluarga dan Nutrisi
Kanker bukan hanya persoalan medis. Ia juga menyentuh aspek sosial dan emosional.
Daniel menekankan bahwa dukungan keluarga memiliki peran besar dalam proses terapi. Sayangnya, masih banyak mitos yang beredar, salah satunya pembatasan makanan secara ekstrem.
Padahal, pasien yang menjalani pengobatan justru membutuhkan asupan nutrisi yang cukup untuk membantu pemulihan dan menjaga stamina.
“Kanker tak hanya penyakit biologis, tetapi juga berdampak sosial dan emosional. Support system yang kuat membantu pasien tetap semangat dan tidak merasa sendirian,” ujarnya.
Perjalanan tidak berhenti setelah pengobatan selesai. Lansia penyintas kanker tetap memerlukan kontrol dan pemantauan rutin untuk mendeteksi kemungkinan kekambuhan serta memantau efek samping terapi.
Menurut Daniel, kombinasi terapi medis yang terukur dan dukungan keluarga yang optimal menjadi kunci.
Tujuannya bukan sekadar memperpanjang usia, tetapi memastikan kualitas hidup tetap terjaga — agar pasien bisa menjalani hari-hari dengan nyaman, bermakna, dan tetap merasa berdaya.
Sumber: ANTARA