Bogota, Kolombia (KABARIN) - Bencana cuaca ekstrem kembali menghantam Brasil. Sedikitnya 22 orang dilaporkan meninggal dunia dan ratusan warga terpaksa mengungsi setelah hujan deras tanpa henti memicu banjir bandang serta tanah longsor di negara bagian Minas Gerais, Selasa (24/2).
Tim pemadam kebakaran dan penyelamat saat ini berpacu dengan waktu untuk mencari puluhan warga yang masih dinyatakan hilang, diduga tertimbun lumpur akibat longsor.
Operasi pencarian melibatkan pasukan keamanan dan unit anjing pelacak K-9 yang terus disiagakan di berbagai wilayah terdampak. Hingga kini, otoritas setempat masih melakukan pendataan sehingga jumlah korban jiwa akibat banjir belum sepenuhnya dipastikan.
Kota industri Juiz de Fora menjadi wilayah dengan dampak paling parah. Dari total 22 korban tewas, sebanyak 16 di antaranya berasal dari kota tersebut, sebagian besar akibat tanah longsor yang menghancurkan rumah warga hanya dalam hitungan detik.
Banjir terjadi sangat cepat setelah sungai utama dan anak-anak sungai di kota itu meluap, menenggelamkan sejumlah lingkungan permukiman dalam beberapa jam saja.
Bulan Februari bahkan resmi tercatat sebagai bulan paling basah sepanjang sejarah Juiz de Fora, dengan curah hujan mencapai 584 milimeter atau dua kali lipat rata-rata bulanan. Hujan mulai turun secara tiba-tiba pada Senin dan terus berlangsung sepanjang malam.
Ketika permukaan air terus naik pada Selasa dini hari, Wali Kota Juiz de Fora Margarida Salomao langsung menetapkan status keadaan darurat publik guna mempercepat akses pendanaan dan bantuan dari pemerintah federal.
"Situasinya sangat serius. Kami bekerja tanpa lelah untuk menyelamatkan nyawa dan menjangkau mereka yang terjebak," kata Salomao dalam sebuah video yang direkam di tengah respons darurat.
Sementara itu, Gubernur Minas Gerais Romeu Zema menetapkan masa berkabung selama tiga hari. Ia juga dijadwalkan tiba di Juiz de Fora untuk memantau langsung operasi penyelamatan besar yang melibatkan tim pemadam kebakaran lokal serta tambahan 150 personel dari kota sekitar.
Duka terdalam terasa di kawasan Parque Burnier. Petugas memperkirakan sedikitnya 17 orang masih hilang, termasuk lima anak-anak, setelah longsor besar menghancurkan 12 rumah di satu ruas jalan.
Tim penyelamat berhasil mengevakuasi sembilan orang dalam kondisi selamat dari reruntuhan. Namun, pencarian korban lainnya kini sangat bergantung pada bantuan anjing pelacak, sementara keluarga korban terus menunggu kabar dengan penuh harap.
Lebih dari 440 warga yang kehilangan tempat tinggal kini ditampung di tiga sekolah negeri. Banyak rumah hancur total atau dinilai terlalu berbahaya untuk dihuni kembali.
Tragedi di Minas Gerais kembali menegaskan pola bencana tahunan di Brasil. Hujan musim panas kerap memicu longsor dan banjir mematikan, terutama di wilayah pegunungan dengan kepadatan penduduk tinggi.
Beberapa jam sebelum badai melanda Juiz de Fora, banjir juga terjadi di Sao Joao de Meriti, wilayah metropolitan Rio de Janeiro, yang menewaskan seorang perempuan berusia 85 tahun setelah rumahnya terendam air. Lebih dari 600 warga di kawasan tersebut terpaksa mengungsi.
Sementara itu di Sao Paulo, dua orang meninggal dunia akibat badai serupa pekan lalu, sehingga total korban jiwa di negara bagian tersebut mencapai 19 orang sejak musim hujan dimulai pada Desember.
Otoritas setempat kini berada dalam status siaga tinggi karena hujan diperkirakan masih akan turun kembali pada Selasa malam, meningkatkan risiko longsor susulan dan banjir tambahan di sejumlah wilayah terdampak.
Sumber: ANAD