Jakarta (KABARIN) - Kurang atau berlebihan cairan dalam tubuh bisa berdampak serius pada kesehatan, dari gejala ringan hingga kondisi yang membahayakan.
Dehidrasi ringan bisa menimbulkan rasa lelah, bibir kering, sakit kepala, dan urine yang lebih gelap, menurut Medical Daily.
Jika cairan tubuh terus berkurang, tubuh kesulitan mengatur tekanan darah dan suhu. Dalam kasus berat, seseorang bisa mengalami pusing, kebingungan, dan detak jantung cepat.
Ketidakseimbangan elektrolit juga menimbulkan risiko serupa. Natrium rendah atau hiponatremia dapat menyebabkan mual, kram, dan gangguan kesadaran. Kekurangan kalium atau hipokalemia bisa memicu kelemahan otot hingga gangguan irama jantung.
Kondisi ini dapat terjadi karena keringat berlebih, diare, muntah, aktivitas fisik intens, atau asupan mineral yang tidak mencukupi. Pada orang lanjut usia dan penderita penyakit kronis, rasa haus sering kali kurang terasa sehingga risiko dehidrasi lebih tinggi.
Namun, terlalu banyak minum air juga tidak aman. Konsumsi air berlebihan tanpa asupan garam bisa menurunkan kadar natrium dan memicu hiponatremia. Meski jarang, kondisi ini berbahaya jika tidak ditangani.
Asupan elektrolit dari suplemen atau minuman tertentu juga perlu diperhatikan. Kelebihan natrium dapat meningkatkan tekanan darah, sementara kadar kalium yang tinggi bisa memengaruhi fungsi jantung.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat menyarankan memantau warna urine sebagai indikator hidrasi. Warna kuning pucat menunjukkan hidrasi cukup, terlalu bening bisa berarti kelebihan cairan, sedangkan warna gelap menandakan kekurangan cairan.
Menjaga keseimbangan cairan tubuh berarti memperhatikan sinyal tubuh dan mengatur asupan air serta elektrolit secara seimbang sepanjang hari.
Sumber: Medical Daily