Jika subsidi tidak ditambah, harga BBM akan meningkat, inflasi naik, daya beli masyarakat menurun, dan berujung pada perlambatan pertumbuhan ekonomi,
Jakarta (KABARIN) - Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menyarankan pemerintah menambah subsidi energi untuk meredam dampak konflik antara Iran dan Amerika Serikat.
Menurut Wijayanto, setiap kenaikan 1 dolar AS per barel bisa membuat subsidi bahan bakar minyak atau BBM bertambah sekitar Rp3 triliun sampai Rp4 triliun.
“Jika subsidi tidak ditambah, harga BBM akan meningkat, inflasi naik, daya beli masyarakat menurun, dan berujung pada perlambatan pertumbuhan ekonomi,” kata Wijayanto saat dihubungi di Jakarta, Senin.
Selain itu, penutupan Selat Hormuz bisa meningkatkan risiko global karena investor cenderung memindahkan dana ke aset yang lebih aman seperti emas atau mata uang kuat.
Dalam kondisi ini, nilai tukar rupiah berpotensi tertekan karena investor beralih ke dolar AS. Jika rupiah melemah, pemerintah bakal kesulitan menerbitkan Surat Berharga Negara atau SBN untuk membiayai defisit APBN.
“Kecuali dengan menaikkan suku bunga. Dampaknya, biaya bunga akan meningkat, yang ujung-ujungnya membebani APBN,” tambahnya.
Karena itu, Wijayanto menilai penambahan subsidi bisa jadi langkah mitigasi yang efektif bagi pemerintah di tengah eskalasi konflik saat ini.
“Menaikkan subsidi adalah pilihan terbaik, realokasi dana dari Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat dipertimbangkan,” tutur dia.
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut perang antara AS dan Iran berpotensi memicu kenaikan harga BBM dalam negeri. Namun, tekanan harga masih bisa tertahan karena suplai minyak dari AS meningkat dan OPEC menambah kapasitas produksinya.
Pemerintah juga sudah menyiapkan antisipasi potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah melalui nota kesepahaman atau MoU untuk memperoleh suplai minyak dari luar kawasan, salah satunya lewat kerja sama PT Pertamina (Persero) dengan beberapa perusahaan energi asal AS.
Sumber: ANTARA