Sultan HB X Sambut Aksi Jalan Damai Para Biksu di Yogyakarta

waktu baca 3 menit

Yogyakarta (KABARIN) - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menyambut kedatangan rombongan biksu berasal dari tiga negara yang melakukan jalan kaki lintas pulau dalam Indonesia Walk For Peace (IWFP) 2026 di Bangsal Kepatihan Yogyakarta, Senin.

"Adalah suatu kehormatan, bahwasanya pada hari ini, Pemerintah Daerah (Pemda) DIY mendapat kehormatan menyambut serta menerima rombongan bhikku peserta Indonesia Walk for Peace," kata dia di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, kehadiran mereka menjadi bermakna bagi jajaran Pemda DIY karena dapat bertatap muka secara langsung dengan rombongan Indonesia Walk for Peace.

Pada kesempatan itu, ia juga mengenalkan kearifan lokal dan warisan budaya Yogyakarta yang telah diwariskan lintas generasi.

"Indonesia Walk for Peace mencerminkan retrospeksi atau sebuah refleksi perjalanan kehidupan. Ia adalah 'niti-laku', menengok jejak perjalanan sejarah dari masa ke masa, dan merevitalisasinya agar bermakna untuk masa kini dan masa yang akan datang," katanya.

Menurut dia, Indonesia Walk for Peace bukan sekadar perjalanan fisik, namun simbolisasi langkah maju menuju masa depan bangsa yang harmonis dan bermartabat, melalui penyebaran energi positif dan harmoni antar-umat beragama.

"Perjalanan ini juga mewujudkan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Mempertegas bahwa keberagaman suku, agama, dan budaya adalah kekayaan yang menyatukan, bukan memisahkan bangsa," kata Sultan.

Ketua Panitia Pusat IWFP 2026 Tosin mengatakan aksi jalan damai lintas pulau ini diikuti 57 biksu dengan rincian 43 orang berasal dari Thailand, empat orang berasal dari Malaysia, dan tiga orang berasal dari Laos, serta tujuh peserta pendamping dari Indonesia.

Dia mengatakan rombongan spiritual ini dipimpin Biksu Phanarin Anando yang saat ini berusia 31 tahun. Rentang usia para peserta aksi jalan damai tergolong kontras, dengan biksu tertua berusia 67 tahun dan anggota rombongan termuda 23 tahun.

Sebelum tiba di Yogyakarta, katanya, para biksu harus berjalan kaki sejauh 30-40 kilometer setiap hari, sejak memulai langkah dari Bali pada 9 April.

Mereka menghabiskan waktu sekitar delapan hingga 10 jam per hari di jalanan di tengah cuaca terik Pulau Jawa yang mencapai suhu 34-36 derajat Celsius.

Tosin mengatakan beratnya perjuangan fisik harus dihadapi para pemuka agama Buddha tersebut selama berminggu-minggu di jalanan.

Hal itu, katanya, terkait dengan keteguhan para biksu yang menolak berhenti beraktivitas meskipun didera cedera pada bagian kaki.

"Kalau saya amati di kakinya itu bisa ada tiga sampai lima jahitan, ini sangat luar biasa. Walaupun terluka dijahit, biasa kan orang istirahat, ini tidak, besok tetap jalan melakukan perjuangan yang tanpa henti," katanya.

Ia juga mengatakan tentang kesederhanaan para biksu dengan memilih tidak merepotkan pihak penyelenggara.

Mereka, ujar dia, menolak fasilitas mewah dengan memilih menyatu dengan fasilitas seadanya yang disediakan warga atau pengurus tempat ibadah lokal.

"Bhikkhu-bhikkhu ini sangat sederhana, mereka tidak tinggal di hotel meskipun panitia ingin memberikan yang terbaik. Mereka tidur di lapangan terbuka, gedung-gedung pertemuan, wihara, walaupun fasilitas apa adanya mereka tidak ada masalah dan sangat mudah dilayani," katanya.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka