Jakarta (KABARIN) - Pasien tuberkulosis (TBC) diingatkan untuk tidak setengah-setengah menjalani pengobatan. Spesialis Paru Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Sulianti Saroso, dr. Titi Sundari, Sp.P(K) FISR menegaskan bahwa konsistensi mengonsumsi obat menjadi kunci utama kesembuhan penyakit ini.
"Ada jenis yang memang kuman TB tersebut aktif berkembang biak atau multiplikasi, tetapi ada juga kuman yang jenisnya dorman atau ia tidur, sehingga pengobatannya membutuhkan waktu yang lama untuk membunuh kuman tersebut, pengobatan harus teratur, diminum setiap hari," kata dokter Titi dalam webinar yang dipantau dari Jakarta, Selasa.
Menurutnya, pengobatan TBC memang tidak bisa instan. Secara umum, pasien perlu menjalani terapi selama sekitar enam bulan. Jika pengobatan dihentikan di tengah jalan atau tidak diminum secara rutin, kuman TBC berisiko menjadi kebal terhadap obat atau dikenal sebagai TB resisten.
Saat ini, memang sudah ada metode pengobatan TBC yang berdurasi lebih singkat, yakni empat bulan. Namun, metode tersebut masih dalam tahap penelitian lanjutan sehingga belum menjadi standar utama pengobatan.
Untuk pasien yang sudah mengalami resistensi obat, proses pengobatan justru menjadi jauh lebih panjang. Terapi bisa berlangsung sekitar sembilan bulan untuk kategori jangka pendek, bahkan hingga 20 bulan pada kasus tertentu.
"Nah itu harus diminum dengan teratur karena kalau tidak diminum dengan teratur akan memicu terjadinya kondisi kekebalan terhadap kuman tersebut," katanya.
Dalam praktik pengobatan TBC, terapi dibagi menjadi dua fase utama. Fase pertama adalah fase awal yang bertujuan membunuh kuman secara cepat sekaligus mencegah munculnya kekebalan akibat mutasi kuman.
Setelah itu, pasien memasuki fase lanjutan. Pada tahap ini, pengobatan difokuskan untuk membasmi kuman yang masih tersisa atau dikenal sebagai kuman persisten, sekaligus mencegah penyakit kambuh kembali.
Dokter Titi menjelaskan bahwa pasien dengan gejala lebih berat atau yang mengalami TB resisten biasanya membutuhkan dosis obat berbeda, bahkan jumlah obat yang lebih banyak dibandingkan pasien biasa. Sementara pada fase lanjutan, pengobatan umumnya hanya menggunakan dua jenis obat.
Sumber: ANTARA