Atur Paparan Cahaya dan Pola Makan untuk Tingkatkan Kualitas Tidur

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Profesor psikologi, neurosains, imunologi, dan genetika medis dari Ohio State University, Gary L. Wenk, mengingatkan bahwa gangguan ritme sirkadian dapat memicu berbagai masalah kesehatan.

Dalam artikel yang dipublikasikan oleh Psychology Today, Gary menjelaskan ritme sirkadian merupakan jam biologis tubuh yang mengatur pola tidur, makan, hingga fungsi organ agar bekerja sesuai waktu yang tepat.

Menurut dia, tubuh manusia secara alami dirancang untuk bangun saat matahari terbit dan beristirahat sekitar tujuh jam setelah malam tiba. Jam biologis tersebut juga perlu disinkronkan setiap hari melalui paparan cahaya matahari.

Namun, gaya hidup modern membuat banyak orang terlalu lama berada di dalam ruangan, sering begadang, serta makan berlebihan pada malam hari. Kebiasaan itu dinilai dapat mengganggu kualitas tidur sekaligus kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Penelitian terbaru juga menunjukkan tidur kurang dari enam jam atau lebih dari delapan jam per hari dapat mempercepat penuaan organ tubuh.

Kurang tidur turut dikaitkan dengan penurunan sistem imun, obesitas, diabetes, gangguan metabolisme, peradangan sendi, hingga penurunan fungsi kognitif.

Gary menjelaskan cahaya terang, terutama cahaya biru di pagi hari, sangat penting untuk menjaga ritme sirkadian tetap stabil. Cahaya tersebut membantu meningkatkan kewaspadaan dan mengatur produksi hormon melatonin yang memicu rasa kantuk pada malam hari.

Sebaliknya, paparan cahaya biru dari lampu dan layar ponsel pada malam hari justru bisa menghambat produksi melatonin sehingga membuat seseorang lebih sulit tidur.

Ia menyebut kurangnya paparan cahaya siang hari dan terlalu banyak cahaya pada malam hari bahkan dapat mempersingkat harapan hidup hingga lima tahun.

Selain faktor cahaya, pola makan juga berpengaruh besar terhadap ritme sirkadian. Tubuh manusia dinilai lebih optimal memproses kalori pada pagi hingga siang hari dibanding malam.

Kebiasaan makan larut malam dapat mengganggu sistem pencernaan, meningkatkan kadar gula darah, hingga mengacaukan jam biologis organ seperti hati dan ginjal.

Pola makan tinggi gula dan lemak jenuh juga disebut dapat membuat kualitas tidur memburuk karena tubuh lebih sering berada pada fase tidur ringan dan mudah terbangun.

Sebaliknya, konsumsi buah dan sayur pada siang hari dinilai membantu meningkatkan kualitas tidur pada malam hari.

Gary menyarankan masyarakat lebih sering mendapatkan paparan cahaya alami dengan beraktivitas di luar ruangan atau duduk dekat jendela pada pagi hingga siang hari.

Selain itu, lampu sebaiknya diredupkan pada malam hari dan penggunaan televisi maupun ponsel dihentikan beberapa jam sebelum tidur agar tubuh lebih mudah beristirahat.

Ia juga mengingatkan agar kebiasaan makan malam berlebihan dan ngemil sebelum tidur mulai dikurangi demi menjaga kesehatan tubuh dan kualitas tidur yang lebih baik.

Sumber: psychologytoday

Bagikan

Mungkin Kamu Suka