Terdampar di Negeri Orang, Merindu Rumah yang Tak Tergantikan

waktu baca 7 menit

Right or wrong, Indonesia tetaplah rumah terbaik. Dan ketika jarak membuat kerinduan terasa nyata, satu kalimat sederhana muncul dari dalam hati. Indonesia selalu layak untuk menjadi tempat pulang.

Singapura (KABARIN) - Ada doa-doa yang kadang dipanjatkan terlalu ringan, seolah hanya sebuah keinginan kecil yang melintas di kepala.

Doa agar perjalanan diperpanjang, agar bisa tinggal sedikit lebih lama di kota yang indah, agar tidak terburu-buru pulang. Namun hidup sering menjawab doa dengan cara yang tak pernah diduga.

Begitulah rasanya ketika sebuah perjalanan yang semula sederhana berubah menjadi pengalaman terdampar berhari-hari di negeri orang tanpa kepastian kapan bisa pulang.

Dari situ muncul satu pelajaran yang sangat sederhana, tetapi terasa begitu kuat bahwa di tempat seindah apa pun seseorang terdampar, tanpa kepastian untuk pulang, tidak ada yang benar-benar merasa betah. Rumah tetap rumah.

Bahkan sangkar emas sekalipun tidak pernah mampu menggantikan kasur tipis di kamar sendiri yang sederhana, tetapi menghadirkan rasa aman dan kebebasan yang tidak tergantikan.

Perasaan itulah yang barangkali dialami puluhan warga negara Indonesia yang mendadak tertahan di Persatuan Emirat Arab ketika ruang udara kawasan Timur Tengah ditutup pada akhir Februari 2026.

Semua bermula dari perjalanan yang seharusnya berjalan normal. Malam 27 Februari 2026, pesawat yang membawa sejumlah penumpang, transit mendarat di Bandara Internasional Zayed Abu Dhabi. Bandara ini merupakan salah satu simpul penerbangan global yang sangat penting.

Sebelum gangguan geopolitik terjadi, bandara tersebut melayani lebih dari 22 juta penumpang per tahun dan menjadi penghubung utama antara Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika.

Terminalnya luas, modern, dan dirancang dengan arsitektur futuristik. Di dalamnya, ribuan penumpang dari berbagai negara biasanya bergerak dalam ritme yang sangat teratur.

Rencana perjalanan saat itu sederhana yakni untuk transit beberapa jam sebelum melanjutkan penerbangan menuju Jakarta.

Karena waktu transit cukup panjang, sebagian penumpang memilih keluar bandara untuk beristirahat sejenak di kota Abu Dhabi.

Kota ini dikenal sebagai salah satu kota paling tertata di Timur Tengah, dengan jalanan bersih, bangunan modern, dan sistem transportasi yang berjalan rapi.

Namun siapa sangka ketika pagi berikutnya, 28 Februari 2026 sekitar pukul 10.00 waktu Abu Dhabi, situasi berubah drastis.

Lini masa media sosial tiba-tiba dipenuhi kabar mengenai serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Tidak lama kemudian muncul laporan mengenai serangan balasan.

Di kawasan Timur Tengah, berita seperti itu bukan sekadar perkembangan geopolitik biasa. Dalam hitungan menit, situasi keamanan bisa berubah.

Tak lama setelah kabar tersebut menyebar, suara dentuman mulai terdengar dari kejauhan. Ponsel warga dan pendatang serentak menerima emergency alert yang memperingatkan peningkatan kewaspadaan. Ketegangan pun meningkat.


Ruang Udara Ditutup

Otoritas Persatuan Emirat Arab segera mengambil langkah pencegahan dengan menutup sebagian wilayah udara. Operasional penerbangan dibatasi, dan sejumlah bandara utama menghentikan aktivitas penerbangan komersial.

Bandara Internasional Zayed Abu Dhabi, Bandara Internasional Dubai, hingga Bandara Ras Al Khaimah menjadi bagian dari sistem kewaspadaan itu.

Dalam waktu singkat, ribuan penumpang internasional mendadak tertahan.

Data otoritas pariwisata Abu Dhabi mencatat sekitar 20.000 visitor internasional terdampak penutupan ruang udara tersebut. Sebagian besar adalah penumpang transit yang seharusnya melanjutkan perjalanan ke berbagai negara.

Ketidakpastian mulai terasa. Penumpang yang masih berada di dalam bandara relatif lebih mudah mendapatkan fasilitas maskapai atau hotel meskipun harus mengantre hingga berjam-jam. Namun mereka yang sudah berada di luar bandara menghadapi situasi berbeda.

Ketika mencoba kembali ke bandara, akses menuju terminal sudah dijaga ketat aparat keamanan. Kendaraan patroli berjaga di sejumlah titik, dan siapa pun diminta menjauh dari kawasan bandara.

Bandara berubah menjadi zona terbatas. Upaya menghubungi maskapai tidak segera memberikan kepastian. Email balasan hanya menyampaikan bahwa penerbangan ditangguhkan hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Situasi seperti itu memperlihatkan betapa rapuhnya rencana perjalanan di tengah krisis geopolitik.

Di tengah ketidakpastian tersebut, solidaritas sesama warga negara terasa sangat nyata. Warga Negara Indonesia yang menetap di Abu Dhabi membuka pintu rumah mereka bagi sesama WNI yang membutuhkan tempat tinggal sementara.

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Abu Dhabi dan KJRI di Dubai kemudian bergerak cepat. Duta Besar RI untuk PEA, Judha Nugraha, memastikan seluruh WNI yang terdampak didata dan dihubungkan dalam satu jalur komunikasi. Grup komunikasi dibentuk agar setiap perkembangan situasi dapat segera disampaikan.

Pertemuan daring juga digelar untuk mendengarkan kondisi masing-masing WNI yang tertahan. Pendekatan itu memberikan rasa tenang bahwa negara hadir melindungi warganya.

Hari-hari berikutnya dijalani dengan ritme yang berbeda. Ketidakpastian tetap terasa, tetapi perlahan muncul kemampuan untuk beradaptasi.

Menariknya, masyarakat UEA tampak menghadapi situasi tersebut dengan ketenangan yang luar biasa.

Kepercayaan terhadap pemerintah dan sistem keamanan negara terlihat sangat kuat. Warga tetap menjalani aktivitas dengan kewaspadaan yang meningkat, tetapi tanpa kepanikan berlebihan.

Sekolah dialihkan ke pembelajaran jarak jauh selama beberapa hari. Pemerintah juga mengeluarkan sejumlah langkah pencegahan untuk memastikan keamanan publik.

Sementara itu, bunyi emergency alert yang semula terasa menegangkan perlahan menjadi bagian dari keseharian.

Meskipun masih saja ada beberapa warga asing yang menginap di hotel yang sempat memilih tidur di lobi karena khawatir berada terlalu dekat dengan jendela kamar saat mendengar dentuman rudal yang diintesepsi.

Salah satu penumpang WNI yang tertahan di bandara menceritakan bagaimana suasana sempat sangat mencekam ketika ruang udara pertama kali ditutup.

Dentuman intersepsi rudal terdengar jelas. Sebagian penumpang berlari mencari tempat aman. Antrean di konter maskapai mengular panjang karena semua orang mencari kepastian penerbangan.

Bandara yang biasanya tertib sempat mengalami kekacauan sesaat. Namun setelah beberapa jam, situasi berhasil dikendalikan.


Penerbangan Repatriasi

Harapan akhirnya datang hampir sepekan kemudian. Pada 5 Maret 2026, sebanyak 30 WNI yang tertahan di Abu Dhabi mendapatkan kesempatan untuk pulang melalui penerbangan repatriasi Etihad Airways menuju Singapura sebelum melanjutkan perjalanan ke Indonesia.

Sementara puluhan sisanya masih diupayakan untuk mendapatkan slot penerbangan repatriasi berikutnya.

Pada 5 Maret 2026, WNI yang terdaftar mendapatkan fasilitasi penerbangan repatriasi berkumpul di Bandara Internasional Zayed yang pagi itu masih tampak lebih lengang dibandingkan hari normal.

Operasional penerbangan sipil memang belum sepenuhnya dibuka. Hanya dua jalur udara khusus yang digunakan untuk penerbangan repatriasi dan evakuasi secara bergantian.

Puluhan ribu penumpang dari berbagai negara sedang dipulangkan secara bertahap.

Proses check-in berlangsung dengan pengawasan ketat. Staf KBRI membantu memastikan seluruh dokumen penumpang lengkap, termasuk pengurusan pembebasan visa darurat bagi penumpang transit.

Namun suasana genting sempat terjadi lagi. Di tengah proses check-in, suara dentuman kembali terdengar. Petugas bandara segera meminta semua orang bergerak menjauh dari jendela dan berkumpul di bagian tengah bangunan.

Barang bawaan diminta ditinggalkan. Selama sekitar sepuluh menit seluruh aktivitas dihentikan.

Tidak ada yang diperbolehkan mengambil gambar. Beberapa orang bahkan sempat diperiksa karena kedapatan merekam situasi. Setelah kondisi dinyatakan aman, aktivitas kembali dilanjutkan seperti biasa.

Penumpang kembali mengantre di konter imigrasi. Paspor diperiksa, visa darurat diberikan, dan proses boarding akhirnya dilakukan.

Ketika pesawat akhirnya lepas landas meninggalkan Abu Dhabi menuju pulang, ada satu pelajaran yang terasa sangat jelas.

Kemewahan, keteraturan, dan kemegahan sebuah kota tidak selalu mampu menggantikan kerinduan pada rumah.

Abu Dhabi dan Dubai adalah simbol modernitas dunia, kota dengan infrastruktur futuristik, sistem yang sangat tertata, dan tingkat keamanan yang tinggi.

Namun dalam situasi krisis, Indonesia justru menjadi tempat yang paling dirindukan. Segala ketidaksempurnaan yang sering dikeluhkan tiba-tiba terasa begitu manusiawi.

Berdesakan di kereta setiap pagi. Rapat panjang di kantor. Dinamika sosial dan politik yang sering memicu perdebatan. Semua itu terasa jauh lebih akrab daripada terjebak di negeri orang tanpa kepastian.

Pada akhirnya, pengalaman terdampar itu mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi sangat berharga.

Di mana pun seseorang berada, selalu penting untuk terhubung dengan negara melalui perwakilan diplomatik yang memiliki tanggung jawab melindungi warganya.

Dan satu hal lagi yang sering terlupakan bahwa rumah tidak selalu sempurna, tetapi selalu menjadi tempat yang paling ingin dituju.

Right or wrong, Indonesia tetaplah rumah terbaik. Dan ketika jarak membuat kerinduan terasa nyata, satu kalimat sederhana muncul dari dalam hati. Indonesia selalu layak untuk menjadi tempat pulang.

Dan ketika roda pesawat akhirnya menyentuh landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta, suara benturannya terdengar begitu merdu. Kali ini benar-benar terdengar merdu sekali.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka