Psikolog Sebut Menunda Pekerjaan Tidak Selalu Buruk bagi Kreativitas

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Psikolog mengungkapkan bahwa kebiasaan menunda pekerjaan atau procrastination tidak selalu menjadi tanda kemalasan maupun kelemahan karakter, melainkan dapat menjadi bagian dari proses kreatif dan cara alami seseorang mengelola motivasi.

Dilansir dari laman Psychology Today pada Senin, pandangan umum yang menganggap menunda pekerjaan sebagai perilaku negatif dinilai terlalu menyederhanakan cara kerja otak manusia.

Menurut psikolog, terdapat individu yang lebih termotivasi oleh tenggat waktu dibandingkan daftar tugas yang harus diselesaikan secara bertahap.

Kelompok ini disebut cenderung bekerja secara efektif ketika batas waktu semakin dekat, berbeda dengan mereka yang lebih nyaman menyelesaikan pekerjaan sedikit demi sedikit sejak awal.

Kebiasaan menunda pekerjaan sering dipandang sebagai masalah yang harus diperbaiki sehingga banyak orang merasa bersalah karena tidak bekerja sesuai standar produktivitas yang umum diterima.

Padahal, tidak semua bentuk penundaan berkaitan dengan kurangnya disiplin atau motivasi.

Dalam sejumlah kasus, masa-masa ketika seseorang terlihat tidak produktif justru menjadi periode penting bagi otak untuk memproses informasi secara internal.

Penelitian mengenai default mode network (DMN), yakni jaringan otak yang aktif ketika seseorang sedang beristirahat atau tidak fokus pada tugas tertentu, menunjukkan bahwa otak tetap bekerja meski tubuh tampak santai.

Pada kondisi tersebut, otak melakukan berbagai proses seperti memilah informasi, menghubungkan pengalaman masa lalu dengan pengetahuan baru, mengolah emosi, hingga menghasilkan ide-ide kreatif.

Penelitian yang dilakukan Mary Immordino-Yang dan koleganya pada 2012 menemukan bahwa periode beristirahat, melamun, atau tidak melakukan aktivitas tertentu dapat membantu proses refleksi internal yang konstruktif.

Melalui proses tersebut, seseorang dapat mengembangkan perspektif baru dan menghasilkan solusi yang lebih kreatif terhadap masalah yang dihadapi.

Psikolog menjelaskan bahwa saat seseorang menunda pekerjaan, bukan berarti ia selalu menghindari tugas. Dalam beberapa situasi, otak tetap mempersiapkan strategi dan memproses pekerjaan tersebut secara tidak sadar.

Karena itu, waktu untuk beristirahat dinilai memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental sekaligus mendukung kreativitas.

Untuk memanfaatkan proses tersebut, psikolog menyarankan seseorang sesekali menjauh dari tuntutan produktivitas yang terus-menerus.

Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, mengamati lingkungan sekitar, melamun, atau bermeditasi dapat memberi ruang bagi otak untuk bekerja secara alami.

Meski demikian, psikolog menegaskan bahwa temuan ini tidak berarti semua bentuk penundaan akan menghasilkan manfaat. Efektivitasnya bergantung pada karakter individu dan kemampuannya mengelola tenggat waktu.

Bagi sebagian orang, produktivitas lahir dari jadwal yang teratur. Bagi yang lain, ide terbaik justru muncul ketika mereka tampak tidak melakukan apa-apa. Ironisnya, otak manusia terkadang bekerja paling keras saat pemiliknya terlihat sedang bengong menatap langit.

Baca juga: 6 Strategi untuk Membantu Memperbaiki Suasana Hati Orang Lain

Sumber: Psychology Today

Bagikan

Mungkin Kamu Suka