Dokter Ungkap Peluang Sembuh Kanker Ginjal Anak Bisa Capai 90 Persen

waktu baca 3 menit

Kunci utama pada penangan kanker anak adalah deteksi lebih cepat sama dengan peluang sembuh lebih tinggi

Jakarta (KABARIN) - Dokter spesialis anak subspesialis hemato onkologi dari RS Hasan Sadikin Bandung, dr. Nur Melani Sp.A Subsp.HO(K), mengungkapkan bahwa kanker ginjal pada anak sebenarnya memiliki peluang sembuh yang cukup tinggi. Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, tingkat kesembuhannya bisa mencapai 80 hingga 90 persen.

Namun, dalam praktiknya di Indonesia, angka tersebut belum sepenuhnya tercapai karena berbagai faktor, mulai dari keterlambatan diagnosis hingga pasien yang berhenti menjalani pengobatan.

“Jadi kalau dari teori atau statistika berkata bahwa harus di 80-90 persen kanker ganas ginjal atau tumor ganas ginjal bisa disembuhkan, namun pada kenyataannya baru 30 persen, itu pun belum dipotong dengan 50 persen putus pengobatan,” kata Nur dalam acara diskusi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa.

Nur yang juga anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Hemato Onkologi IDAI menjelaskan bahwa kanker ginjal pada anak, khususnya Tumor Wilms (nefroblastoma), umumnya sulit dicegah. Hal ini karena penyebab pastinya sering kali tidak diketahui dan kerap berkaitan dengan faktor genetik atau kelainan perkembangan ginjal sejak lahir yang terkait dengan sindrom genetik tertentu.

Meski demikian, orang tua tetap bisa meningkatkan peluang kesembuhan anak melalui deteksi dini. Salah satu cara paling sederhana adalah dengan memperhatikan perubahan bentuk tubuh anak.

Pada anak usia di bawah lima tahun, orang tua perlu waspada jika perut anak tampak membesar. Kondisi ini sering kali disalahartikan sebagai perut kembung, padahal bisa menjadi tanda adanya massa atau tumor di ginjal. Perut yang membesar biasanya juga terasa keras saat ditekan.

Selain itu, gejala lain yang perlu diwaspadai antara lain tekanan darah meningkat, wajah pucat atau mudah lelah, nafsu makan menurun, hingga muntah karena adanya benjolan di ginjal yang menekan organ di sekitarnya.

Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya melakukan beberapa pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan awal umumnya menggunakan USG, lalu jika ditemukan dugaan adanya massa di ginjal akan dilanjutkan dengan CT Scan. Selain itu, dokter juga melakukan pemeriksaan darah dan urin untuk memantau kondisi pasien serta kemungkinan komplikasi.

“Kalau misalnya memungkinkan untuk dilakukan operasi terlebih dahulu, maka tindakan operasi merupakan tindakan awal (pengobatan) dan kemudian diteliti lagi secara mikroskop, sudah terjadi penyebaran, jenis selnya apa kemudian ditentukan pengobatan lanjutan yang lebih akurat, bila terlalu besar maka ada upaya untuk mengecilkan tumornya terlebih dahulu dengan lakukan obat-obatan atau kemoterapi, ” kata Nur.

Sayangnya, Nur menilai masih banyak kasus di Indonesia di mana anak datang ke rumah sakit dalam kondisi stadium lanjut. Salah satu penyebabnya adalah orang tua yang masih menyangkal gejala awal kanker pada anak.

Selain itu, faktor lain yang juga memengaruhi keterlambatan penanganan adalah sistem rujukan berjenjang yang memakan waktu, status BPJS yang belum aktif, serta tingginya angka pasien yang putus pengobatan yang mencapai sekitar 50 persen.

Karena itu, Nur mengingatkan orang tua untuk lebih waspada, terutama jika anak memiliki riwayat kelainan genetik, riwayat keluarga dengan banyak kasus kanker, paparan radiasi, bahan kimia tertentu, atau infeksi tertentu.

“Karena kunci utama pada penangan kanker anak adalah deteksi lebih cepat sama dengan peluang sembuh lebih tinggi, jika ditemukan lebih awal pengobatan bisa lebih efektif, komplikasi bisa lebih sedikit, sehingga peluang sembuh lebih besar, dan itu merupakan peran orang tua dan masyarakat,” kata Nur.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka