PBB (KABARIN) - Perwakilan tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa menyampaikan bahwa jumlah korban sipil terus bertambah akibat serangan militer yang terjadi sejak akhir Februari.
Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani mengatakan lebih dari 1.300 warga sipil dilaporkan meninggal dunia. Selain korban jiwa, ribuan fasilitas sipil juga disebut mengalami kerusakan berat sejak operasi militer oleh Amerika Serikat dan Israel dimulai pada 28 Februari.
Menurut Iravani, total sekitar 9.669 fasilitas sipil terdampak dalam serangan tersebut. Kerusakan itu mencakup 7.943 rumah warga, 1.617 pusat layanan dan area komersial, 32 fasilitas medis dan farmasi, 65 sekolah dan lembaga pendidikan, serta 13 bangunan milik Bulan Sabit Merah Iran. Selain itu beberapa fasilitas pasokan energi juga dilaporkan ikut terdampak.
"Mereka dengan sengaja dan tanpa pandang bulu menargetkan warga sipil dan infrastruktur sipil di seluruh negara saya. Mereka tidak menghormati hukum internasional dan tidak menahan diri dalam melakukan kejahatan ini," ungkap Iravani.
Ia menyebut kawasan permukiman padat penduduk hingga berbagai fasilitas penting ikut menjadi sasaran. Seiring berlanjutnya serangan, jumlah korban serta kerusakan infrastruktur disebut terus meningkat.
Iravani juga menyoroti serangan terhadap fasilitas penyimpanan bahan bakar di Teheran dan sejumlah kota lainnya pada Sabtu malam. Serangan itu disebut memicu pelepasan polutan berbahaya dalam jumlah besar ke udara.
Menurut laporan Bulan Sabit Merah Iran, dampak ledakan tersebut menyebabkan kualitas udara memburuk dan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan serius bagi warga, terutama anak-anak, perempuan, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu.
"Serangan-serangan keji ini juga melanggar kewajiban lingkungan internasional, termasuk yang tercantum dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim dan Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati," tutur dia.
Selain itu, Iravani juga menyebut serangan terhadap Bandar Udara Mehrabad yang menyebabkan beberapa pesawat sipil dan fasilitas bandara mengalami kerusakan berat. Serangan lain juga dilaporkan terjadi di Pulau Qeshm di Provinsi Hormozgan yang mengganggu pasokan air bersih untuk sekitar 30 desa setelah fasilitas desalinasi rusak.
Ia juga menyinggung peristiwa di Beirut ketika pasukan Israel melancarkan serangan terhadap Hotel Ramada yang menewaskan empat diplomat Iran pada Minggu dini hari.
"Pembunuhan diplomat secara terarah di wilayah negara berdaulat lain merupakan tindakan teroris yang serius, kejahatan perang, dan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional," kata Iravani.
Ia mendesak komunitas internasional untuk segera bertindak menghentikan konflik tersebut.
"Kami akan mengambil semua tindakan yang diperlukan demi membela rakyat kami, wilayah kami, dan kemerdekaan kami," ujar Iravani.
Sumber: Xinhua