WHO Ingatkan Wabah Ebola di Kongo Meluas Sangat Cepat

waktu baca 2 menit

Jenewa (KABARIN) - Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengeluarkan peringatan terkait lonjakan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo yang kini berkembang dengan sangat cepat.

Lembaga tersebut menyebut sebagian besar kasus baru berasal dari rantai penularan yang belum berhasil diidentifikasi.

Direktur Eksekutif Program Darurat Kesehatan WHO Chikwe Ihekweazu menyampaikan hingga 11 Juli hampir 2.000 kasus Ebola telah terkonfirmasi, dengan lebih dari 700 orang meninggal dunia di lima provinsi. Jumlah tersebut menjadikan wabah kali ini sebagai yang terbesar ketiga dalam sejarah negara tersebut.

"Kami telah menyaksikan pertumbuhan tercepat dalam satu bulan sejak wabah ini dimulai dan di antara seluruh wabah Ebola yang pernah kami tangani," kata Ihekweazu.

Setelah kembali dari pusat penanganan wabah di Provinsi Ituri, Ihekweazu mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari terakhir jumlah kasus harian terus meningkat hingga mencatat rekor baru. Dalam kurun waktu 24 jam, lebih dari 80 infeksi baru berhasil dikonfirmasi.

WHO juga menyoroti tingginya angka kematian yang terjadi di luar fasilitas kesehatan. Banyak pasien dilaporkan meninggal di lingkungan masyarakat tanpa sempat mendapatkan pemeriksaan maupun perawatan medis.

Meski kapasitas diagnosis dan pelacakan kontak terus ditingkatkan, WHO mengaku masih menghadapi tantangan besar dalam mengendalikan penyebaran virus.

"80 persen kasus baru berada di luar daftar kontak kami, sehingga berasal dari rantai penularan yang tidak diketahui," ujar Ihekweazu.

Berdasarkan pemodelan epidemiologi WHO, jumlah sebenarnya dari kasus Ebola diperkirakan bisa mencapai dua hingga empat kali lebih banyak dibandingkan angka resmi yang telah dilaporkan.

Wabah ini baru diumumkan secara resmi sekitar dua bulan lalu. Hingga kini, sekitar 95 persen kasus masih terkonsentrasi di Provinsi Ituri. Namun, virus tersebut kini telah menyebar ke dua provinsi lain, yakni Haut-Uele dan Tshopo.

Untuk menekan penyebaran wabah, WHO menerapkan strategi ganda dengan memperkuat penanganan di wilayah yang menjadi pusat penyebaran sekaligus memetakan jalur mobilitas penduduk dan daerah yang berpotensi mengalami penularan berikutnya.

Meski situasi masih mengkhawatirkan, WHO meminta masyarakat internasional tetap memberikan dukungan dan tidak kehilangan harapan karena sejumlah perkembangan positif mulai terlihat.

"Sekarang bukanlah waktunya untuk lengah," ujar dia.

WHO juga menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada pengobatan yang disetujui secara khusus untuk spesies virus Ebola Bundibugyo. Meski begitu, beberapa kandidat obat masih menjalani uji klinis dan perawatan suportif sejak dini terbukti mampu meningkatkan peluang pasien untuk bertahan hidup.

"Kita harus mengidentifikasi kasus-kasus lebih awal, sehingga bisa memberikan perawatan kepada mereka sesegera mungkin," kata Ihekweazu.

Sumber: Xinhua

Bagikan

Mungkin Kamu Suka