Mensesneg Pastikan Hotel Sultan Dioptimalkan untuk Pemasukan Negara

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Kementerian Sekretariat Negara memastikan kawasan eks Hotel Sultan akan dimanfaatkan secara lebih maksimal untuk meningkatkan penerimaan negara.

Langkah tersebut dilakukan setelah aset itu berhasil diambil alih berdasarkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap sejak Juni 2026.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah kini tengah menyusun rencana pengelolaan baru bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) agar kawasan tersebut memiliki nilai ekonomi yang lebih besar.

"Kami telah dan sedang berkoordinasi dengan Danantara untuk merancang ulang pengelolaan kompleks area Hotel Sultan dan sekitarnya untuk bisa kita optimalkan peruntukannya sehingga kita berharap juga akan dapat menambah pemasukan kepada negara," kata Mensesneg.

Dalam rapat kerja bersama Komisi XIII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu, Prasetyo menjelaskan bahwa proses pengambilalihan aset Hotel Sultan telah rampung pada 18 Juni 2026. Menurutnya, penyelesaian tersebut mengakhiri sengketa yang berlangsung sekitar delapan tahun.

"Dari seluruh proses hukum dinyatakan bahwa Hotel Sultan itu adalah milik negara yang pengelolaannya kepada pihak ketiga telah selesai sehingga kita hanya menjalankan proses hukum berdasarkan hasil ketetapan dari pengadilan," jelasnya.

Usai rapat, Prasetyo mengungkapkan proses pengosongan bangunan masih terus berjalan. Tahapan itu diperkirakan memerlukan waktu sekitar satu bulan sebelum aset resmi diserahkan kepada BPI Danantara untuk dikelola lebih lanjut.

Sementara itu, Kepala BPI Danantara Rosan Roeslani sebelumnya menyampaikan bahwa revitalisasi menyeluruh kawasan Gelora Bung Karno (GBK) di Jakarta diharapkan mampu mendorong peningkatan belanja wisatawan asing selama berada di Indonesia.

"Average spending (pengeluaran rata-rata) kita itu baru 1.100-an dolar AS lebih. Nah, bagaimana untuk meningkatkan average spending-nya juga," kata Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (15/6).

Rosan menilai daya saing pariwisata Indonesia masih perlu ditingkatkan agar mampu bersaing dengan negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Singapura. Karena itu, pengembangan kawasan wisata beserta ekosistem pendukungnya menjadi salah satu fokus utama.

"Kalau kita lihat sektor pariwisata Indonesia dibandingkan negara-negara ASEAN, kita memang masih cukup jauh dibandingkan Thailand, Singapura, dan negara lainnya," ujarnya.

Ke depan, Danantara akan mengembangkan strategi pariwisata yang menjangkau berbagai jenis wisatawan, mulai dari pasar wisata massal hingga wisata khusus yang memiliki potensi memberikan nilai ekonomi lebih tinggi bagi Indonesia.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka