Menkeu Sebut Pelemahan Rupiah Masih Lebih Stabil Dibanding Mata Uang Negara Lain

waktu baca 2 menit

Ini mencerminkan ketahanan eksternal Indonesia serta koordinasi fiskal-moneter yang kuat,

Jakarta (KABARIN) - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan nilai tukar rupiah sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran masih tergolong ringan dibandingkan mata uang negara lain.

Menurut dia, tekanan terhadap rupiah terjadi seiring penguatan dolar Amerika Serikat di pasar global. Meski begitu, pergerakannya dinilai masih relatif stabil jika dibandingkan dengan sejumlah mata uang di kawasan.

“Rupiah terdepresiasi sebesar 0,3 persen (month-to-date/mtd, sejak perang dimulai hingga hari ini), jauh lebih baik dengan mata uang negara-negara di sekeliling kita,” kata Purbaya di Jakarta.

Ia menjelaskan beberapa mata uang negara tetangga justru mengalami pelemahan yang lebih dalam. Ringgit Malaysia misalnya turun sekitar 0,5 persen secara month to date. Sementara baht Thailand melemah hingga 1,6 persen dalam periode yang sama.

Di sisi lain, peso Filipina tercatat terkoreksi sekitar 1,4 persen. Sedangkan dolar Singapura mengalami penurunan dengan besaran yang sama seperti rupiah.

“Ini mencerminkan ketahanan eksternal Indonesia serta koordinasi fiskal-moneter yang kuat,” ujarnya.

Purbaya juga menanggapi berbagai kritik yang muncul di media sosial terkait kondisi rupiah belakangan ini. Ia meminta masyarakat melihat situasi secara lebih menyeluruh dan membandingkan posisi rupiah dengan mata uang negara lain.

“(Rupiah) kita masih oke, artinya kita masih dianggap menjaga kebijakan fisikal dan moneter yang baik dan fondasi ekonomi kita cukup baik,” ucapnya.

Ia optimistis kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang masih solid akan berdampak positif terhadap pasar keuangan domestik, termasuk pasar saham.

“Kalau ekonominya, fundamentalnya baik terus, otomatis pelan-pelan saham akan naik lagi ke level yang lebih baik dari sekarang,” tuturnya.

Pada perdagangan di Jakarta, rupiah sempat menunjukkan penguatan tipis. Nilai tukarnya naik sekitar 12 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp16.851 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.863 per dolar AS.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah tersebut terjadi setelah harga minyak dunia mengalami penurunan cukup tajam.

Meski begitu, ia menilai konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah tetap menjadi faktor yang menekan pergerakan rupiah. Ia memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.800 hingga Rp16.950 per dolar AS dalam waktu dekat.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka