Beijing (KABARIN) - Suasana Ramadhan terasa hangat di Masjid Haidian, Beijing, China. Masjid yang berada sekitar 10 kilometer di barat laut pusat kota itu menjadi tempat berkumpulnya puluhan Muslim dari berbagai negara untuk berbuka puasa bersama setiap hari.
Masjid Haidian berada dekat sejumlah kampus besar seperti Universitas Tsinghua, Universitas Peking, dan Universitas Renmin. Lokasi ini membuatnya menjadi pusat aktivitas ibadah bagi banyak mahasiswa internasional dan warga asing yang tinggal di Beijing, termasuk dari Indonesia, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Afrika.
Salah satu jemaah yang rutin berbuka di sana adalah Mohamed Omar Masoud, mahasiswa magister asal Zanzibar, Tanzania. Ia mengaku suasana berbuka di masjid tersebut mengingatkannya pada tradisi Ramadhan di kampung halamannya.
“Di Zanzibar, Ramadhan adalah waktu bersama keluarga. Biasanya kami mengundang kerabat, teman, atau rekan kerja untuk berbuka dengan makanan yang disiapkan,” kata Mohamed Omar Masoud, Selasa (10/3).
“Di Masjid Haidian, saya berbuka setiap hari karena atmosfernya mengingatkan saya pada suasana kebersamaan saat berbuka di Zanzibar,” tambah Masoud.
Setiap hari selama Ramadhan, Masjid Haidian menyediakan hidangan berbuka puasa bagi para jemaah. Makanan disajikan di meja bundar yang ditempatkan di halaman depan masjid, sehingga para jemaah bisa duduk bersama dan menikmati hidangan dalam suasana yang akrab.
Menariknya, momen berbuka ini diikuti oleh jemaah dari berbagai negara, termasuk perempuan dan warga lokal China.
Meski begitu, Masoud mengaku tetap merindukan keluarga serta masakan khas dari rumahnya di Zanzibar. Ia menyebut ada beberapa makanan yang selalu ia ingat saat Ramadhan.
“Saya rindu makanan khas Zanzibar seperti singkong rebus dimasak dengan air kelapa dan disajikan dengan ikan bercita rasa asam,” ujarnya.
Namun rasa rindu itu sedikit terobati karena kehangatan komunitas Muslim di Masjid Haidian. Bagi Masoud, komunitas tersebut terasa seperti keluarga baru selama ia tinggal jauh dari rumah.
“Kami berbeda negara dan bahasa, tapi sebagai Muslim kami bersaudara. Itu sebabnya saya datang tiap hari, duduk dan makan bersama orang-orang yang membuat saya merasa seperti di rumah,” kata Masoud.
Saat berbuka puasa di masjid tersebut, ia juga menjalin pertemanan dengan jemaah dari berbagai negara seperti Nigeria, Zambia, Sierra Leone, Pakistan, Uzbekistan, hingga Muslim lokal dari China.
Walau terkadang terkendala bahasa, Masoud mengatakan komunikasi tetap terasa mudah. Cukup dengan menyapa menggunakan “assalamu’alaikum”, percakapan biasanya langsung mengalir.
Rasa kebersamaan itu membuatnya merasa diterima dan aman, meskipun berada jauh dari tanah kelahirannya.
Masjid Haidian sendiri memiliki sejarah panjang. Bangunan ini didirikan pada akhir Dinasti Ming sekitar abad ke-17 dan hingga kini masih aktif menjadi pusat kegiatan umat Muslim di wilayah tersebut.
Selama Ramadhan, masjid ini menyediakan buka puasa gratis untuk sekitar 40 jemaah setiap harinya.
Di sekitar area masjid juga terdapat sejumlah toko makanan halal. Beberapa di antaranya menjual hidangan seperti daging sapi Yaofengcheng, olahan daging kambing, hingga bakpao halal yang bisa dinikmati oleh para jemaah setelah beribadah.
Sumber: ANTARA