Jakarta (KABARIN) - Perjalanan mudik Lebaran bisa terasa lebih ringan di kantong jika pengendara memperhatikan cara berkendara dan kondisi kendaraan. Dengan gaya mengemudi yang tepat serta persiapan perjalanan yang matang, konsumsi bahan bakar bisa ditekan sehingga perjalanan jadi lebih hemat energi.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menjelaskan bahwa sebagian besar energi kendaraan sebenarnya terbuang dari beberapa faktor utama. Di antaranya gaya mengemudi yang agresif, hambatan dari ban dan gesekan kendaraan dengan jalan, serta tambahan beban pada kendaraan.
Selain itu, perencanaan perjalanan seperti memilih rute dan waktu keberangkatan yang tepat juga berpengaruh terhadap efisiensi bahan bakar.
"Mengemudi terlalu cepat, sering melakukan akselerasi mendadak lalu pengereman keras, atau terjebak stop-and-go yang tidak diantisipasi akan membuat konsumsi energi meningkat signifikan," ujar Yannes ketika dihubungi dari Jakarta, Kamis.
Menurut dia, gaya berkendara yang agresif memang menjadi salah satu penyebab utama borosnya bahan bakar. Apalagi jika kondisi lalu lintas tidak diantisipasi dengan baik sehingga kendaraan sering mengalami pola berhenti dan jalan secara berulang.
“Gaya mengemudi agresif dapat menurunkan efisiensi BBM sekitar 15-30 persen di jalan tol dan 10-40 persen pada kondisi lalu lintas padat,” kata dia.
Karena itu, persiapan sebelum berangkat mudik juga tidak kalah penting. Pengemudi disarankan memastikan kendaraan dalam kondisi prima dengan melakukan servis berkala.
Mulai dari mengganti oli sesuai interval yang dianjurkan hingga memastikan filter udara tetap bersih agar mesin dapat bekerja secara optimal.
Selain mesin, kondisi ban juga perlu mendapat perhatian. Tekanan ban sebaiknya dicek sebelum perjalanan dan disesuaikan dengan rekomendasi pabrikan saat kondisi ban masih dingin.
"Tekanan ban yang kurang dapat meningkatkan rolling resistance sehingga konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros".
Rolling resistance adalah hambatan yang muncul ketika ban kendaraan bergulir di permukaan jalan. Hambatan ini membuat mesin membutuhkan energi tambahan agar kendaraan tetap bergerak.
Secara sederhana, rolling resistance terjadi karena ban tidak benar-benar kaku. Saat ban menyentuh jalan, bentuknya akan sedikit berubah atau tertekan, lalu kembali ke bentuk semula saat berputar. Proses perubahan bentuk ini membuat sebagian energi terbuang dalam bentuk panas.
Selama perjalanan, pengemudi juga disarankan menjaga gaya berkendara tetap stabil. Akselerasi sebaiknya dilakukan secara bertahap dan kecepatan dijaga konstan agar konsumsi bahan bakar tidak meningkat drastis.
Jika mobil dilengkapi fitur cruise control, fitur tersebut bisa dimanfaatkan untuk membantu menjaga kestabilan kecepatan, terutama saat melaju di jalan tol.
Menurunkan sedikit kecepatan di jalan tol juga dapat memberikan penghematan yang cukup terasa. Pasalnya, konsumsi energi kendaraan biasanya meningkat tajam ketika melaju dalam kecepatan tinggi.
Sementara saat menghadapi kemacetan, cara terbaik untuk menghemat bahan bakar adalah dengan mengurangi agresivitas berkendara serta menghindari kondisi mesin menyala terlalu lama tanpa bergerak.
"Terakhir, kurangi beban bawaan tidak perlu di bagasi, hindari penggunaan roof rack kosong yang meningkatkan hambatan kendaraan," jelas Yannes.
Dengan menerapkan cara-cara tersebut, perjalanan mudik tidak hanya lebih hemat bahan bakar, tetapi juga bisa terasa lebih nyaman dan efisien.
Sumber: ANTARA