Jakarta (KABARIN) - Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli melakukan pemantauan terhadap kesiapan angykutan Lebaran 2026 di Terminal Terpadu Pulo Gebang, Jakarta Timur, pada Senin.
"Kemenaker melakukan pengecekan kesiapan bagi para pengemudi. Jadi di sini dilakukan pengecekan kesehatan," kata Yassierli di Terminal Terpadu Pulo Gebang, Jakarta Timur (Jaktim).
Yassierli meninjau pelaksanaan pemeriksaan kesehatan bagi pengemudi bus angkutan mudik guna memastikan keselamatan perjalanan para pemudik pada Lebaran 2026.
Pemeriksaan ini juga sebagai langkah antisipasi untuk memastikan para pengemudi berada dalam kondisi prima sebelum membawa penumpang.
Yassierli menjelaskan, pengecekan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemeriksaan kesehatan, wawancara, hingga tes berbasis komputer yang dirancang untuk mengukur kesiapan pengemudi saat bekerja.
"Di sini dilakukan pengecekan kesehatan, wawancara dan ada beberapa 'tools' berbasis komputer untuk melihat kesiapan bekerja pengemudi sebelum beraksi," katanya.
Menurut dia, kondisi fisik pengemudi sangat menentukan tingkat kewaspadaan saat berkendara. Pengemudi yang berada dalam kondisi fit akan lebih fokus dan waspada di jalan.
Sebaliknya, jika pengemudi dalam kondisi tidak optimal, sistem yang digunakan dalam pemeriksaan dapat mendeteksi potensi risiko tersebut.
Salah satu faktor penting yang menjadi perhatian dalam pemeriksaan yakni waktu istirahat pengemudi sebelum mengemudi.
Yassierli menegaskan, kurangnya waktu istirahat dapat meningkatkan risiko kelelahan yang berpotensi membahayakan keselamatan perjalanan.
Selain itu, dalam pengecekan yang dilakukan, dia menemukan pengemudi yang hendak membawa bus namun hanya beristirahat sekitar dua jam dan memiliki tekanan darah tinggi. Kondisi tersebut dinilai tidak ideal untuk mengemudi jarak jauh.
"Kalau kita bertemu pengemudi yang istirahatnya kurang, dia harus istirahat dulu atau diganti dengan pengemudi cadangan," katanya.
Program pemeriksaan kesehatan ini dilaksanakan di enam wilayah di Indonesia, yaitu Medan, Bandung, Jakarta, Samarinda, Makassar dan Surabaya. Pemeriksaan dilakukan baik di perusahaan otobus (PO) maupun di terminal-terminal keberangkatan bus.
Proses pengecekan dilakukan melalui dua tahapan. Pada tahap pertama, pengemudi menjalani wawancara dan pemeriksaan fisik untuk mengetahui kondisi kesehatan dasar.
Setelah itu, pengemudi mengikuti tahap kedua berupa "passing test" yang menggunakan perangkat berbasis komputer untuk menilai tingkat kesiapan dan kewaspadaan saat mengemudi.
Dari hasil pemeriksaan sementara, Kemenaker mencatat sebagian besar pengemudi dinyatakan layak untuk mengemudi. Namun demikian, sekitar sepertiga pengemudi disarankan untuk beristirahat terlebih dahulu karena belum dalam kondisi optimal.
Sementara itu, sekitar 10 persen pengemudi tidak direkomendasikan untuk mengemudi sehingga harus digantikan oleh pengemudi cadangan demi menjaga keselamatan perjalanan.
Adapun langkah ini merupakan upaya baru yang dilakukan pemerintah pada musim mudik tahun ini untuk meningkatkan aspek keselamatan transportasi darat.
Hal itu karena pada periode mudik beban kerja pengemudi bus biasanya meningkat karena harus melakukan perjalanan pulang-pergi dalam waktu yang relatif singkat.
"Kita harus memastikan pengemudi kita memiliki waktu istirahat yang cukup agar perjalanan mudik bisa berlangsung aman," tegas Yassierli.
Melalui pemeriksaan kesehatan dan tes kesiapan ini, pemerintah berharap dapat meminimalkan risiko kecelakaan akibat faktor kelelahan atau kondisi kesehatan pengemudi, sekaligus memastikan perjalanan para pemudik berlangsung aman dan nyaman.
Sumber: ANTARA