Jakarta (KABARIN) - Dokter spesialis neurologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI RSCM) Astri Budikayanti mengatakan perubahan pola tidur selama libur panjang dapat menyebabkan tubuh mudah lelah dan sulit berkonsentrasi karena ritme biologis tubuh menjadi tidak teratur.
“Biasanya kita memiliki jadwal rutin, misalnya bekerja dari pagi hingga sore. Saat liburan, aktivitas sosial meningkat, orang sering begadang atau menonton sampai larut, sehingga jam tidur berubah dan tubuh menjadi bingung menyesuaikan ritmenya,” kata Astri dalam diskusi kesehatan yang dipantau secara daring di Jakarta, Senin.
Menurut dia, tubuh manusia memiliki sistem biologis yang mengatur waktu tidur dan bangun melalui hormon tertentu.
Ketika seseorang terbiasa tidur dan bangun pada jam yang sama, tubuh akan menyesuaikan produksi hormon tersebut secara otomatis.
Namun, ketika pola tidur berubah selama beberapa hari, tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan kembali ritme tersebut.
“Kalau perubahan hanya satu sampai dua hari, biasanya tubuh masih bisa menyesuaikan. Tapi kalau lebih dari dua atau tiga hari, ritme tidur bisa mulai kacau,” ujarnya.
Ia menjelaskan gangguan pola tidur dapat memicu berbagai dampak jangka pendek seperti kelelahan, kurang fokus, hingga munculnya fenomena yang dikenal sebagai “brain fog” atau kondisi ketika seseorang merasa sulit berpikir jernih.
Selain itu, kurang tidur juga dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga seseorang lebih mudah tertular penyakit.
“Secara keseluruhan mungkin masih bisa diatasi, tetapi pasti ada dampaknya terhadap sistem imun,” katanya.
Astri menambahkan, tidur merupakan kebutuhan biologis yang sangat penting bagi manusia karena sekitar sepertiga waktu hidup dihabiskan untuk tidur.
Karena itu, menjaga pola tidur yang konsisten menjadi salah satu kunci untuk mempertahankan kesehatan fisik dan mental.
“Tidur bukan hanya sekadar beristirahat, tetapi juga proses biologis yang penting untuk memulihkan tubuh dan otak,” katanya.
Sumber: ANTARA