Diplomat AS Nilai Ajakan Trump Libatkan Sekutu NATO di Selat Hormuz Sudah Tepat

waktu baca 2 menit

Washington (KABARIN) - Duta Besar Amerika Serikat untuk NATO Matthew Whitaker menilai langkah Presiden AS Donald Trump yang mendorong negara anggota NATO ikut membantu menjaga keamanan Selat Hormuz merupakan keputusan yang tepat.

Ajakan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Israel yang berhadapan dengan Iran di kawasan Timur Tengah.

Whitaker menyampaikan bahwa keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz sebenarnya juga menjadi kepentingan banyak negara yang tergabung dalam NATO. Karena itu ia menilai wajar jika Washington meminta dukungan dari para sekutunya.

"Keamanan Selat Hormuz adalah kepentingan mereka (negara-negara NATO), dan karena itu dia (Trump) tepat sekali untuk menyarankan agar sekutu kami perlu datang, mereka perlu membantu dan mendukung upaya kami dalam memastikan bahwa rezim Iran tidak lagi memiliki rudal balistik, drone Shahed, atau mengembangkan senjata nuklir," kata Whitaker kepada Fox News.

Sebelumnya Trump juga sempat mempertanyakan kesediaan sekutu NATO untuk membantu Amerika Serikat. Ia menyinggung bahwa komitmen Washington dalam mendukung aliansi tersebut selama ini sangat kuat.

Pada Sabtu 14 Maret, Trump juga meminta sejumlah negara seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, serta Inggris agar ikut mengirim kapal perang ke Selat Hormuz untuk membantu menjaga keamanan jalur laut tersebut.

Laporan dari Financial Times menyebutkan bahwa Prancis bersama beberapa negara lain memang sedang menjalankan misi bersama guna memastikan kapal tanker tetap bisa melintasi jalur itu dengan aman.

Ketegangan di kawasan meningkat setelah pada 28 Februari Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut menimbulkan kerusakan serta korban di kalangan warga sipil.

Iran kemudian melakukan serangan balasan dengan menargetkan wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di berbagai wilayah Timur Tengah.

Situasi tersebut membuat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz sempat terhenti. Jalur laut ini merupakan rute utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia menuju pasar energi global sehingga gangguan di wilayah itu turut memengaruhi ekspor dan produksi minyak dunia.

Sumber: SPU

Bagikan

Mungkin Kamu Suka