Pemerintah Kaji Skema WFH untuk Kurangi Dampak Kenaikan Harga Minyak

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tengah menyiapkan skema kerja fleksibel berupa work from home (WFH) sebagai salah satu langkah untuk merespons kenaikan harga minyak dan menjaga efisiensi penggunaan bahan bakar.

Airlangga menyampaikan bahwa kebijakan ini dirancang agar aktivitas kerja tetap berjalan namun dengan mobilitas yang lebih rendah sehingga konsumsi BBM dapat ditekan.

"Terkait dengan kajian, bahwa dengan tingginya harga minyak, maka perlu efisiensi daripada waktu kerja, dimana akan dibuka fleksibilitas untuk work from home," ujar Airlangga dalam pernyataan pers usai rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis sore.

Ia menjelaskan skema yang disiapkan memungkinkan pekerja menjalani WFH satu hari dalam sepekan atau dari lima hari kerja, dengan penerapan yang tidak hanya menyasar aparatur sipil negara tetapi juga sektor swasta serta pemerintah daerah.

Saat ini, kebijakan tersebut masih dalam tahap penyusunan teknis dan belum diberlakukan secara resmi. Pemerintah akan mengumumkan detail penerapannya setelah seluruh konsep dinilai matang.

Rencana awalnya, kebijakan WFH ini akan mulai diterapkan setelah periode Lebaran dengan waktu pelaksanaan yang masih akan ditentukan kemudian.

"Setelah Lebaran, tapi nanti akan kita tentukan waktunya," ucap dia.

Airlangga juga menyampaikan bahwa durasi dan mekanisme penerapan WFH akan menyesuaikan kondisi yang berkembang, termasuk dinamika harga minyak dan situasi global yang mempengaruhi ekonomi.

"Nanti kita lihat situasi harga minyak, situasi perang, jadi kita ikuti situasinya," kata Airlangga.

Menurutnya, Presiden Prabowo memberikan respons positif terhadap usulan tersebut karena dinilai dapat membantu mengurangi beban konsumsi energi terutama dari penggunaan kendaraan dalam aktivitas harian.

Penghematan yang diharapkan dari kebijakan ini diperkirakan cukup signifikan karena berkurangnya mobilitas pekerja dapat menurunkan penggunaan bahan bakar hingga sekitar seperlima dari kondisi normal.

"(Respons Presiden) baik karena itu ada penghematan, dari segi penggunaan mobilitas dari bensin. penghematannya cukup signifikan 1/5 dari apa yang biasa kita keluarkan," pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara juga menekankan pentingnya langkah antisipatif untuk mengendalikan konsumsi BBM di tengah ketidakpastian global serta mendorong efisiensi di berbagai sektor sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka