Moskow (KABARIN) - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan penolakannya terhadap proposal terbaru dari Iran terkait upaya penyelesaian konflik kedua negara. Pernyataan itu disampaikan pada Minggu (3/5) setelah ia mengaku telah mempelajari isi usulan tersebut secara menyeluruh.
“(Proposal) itu tidak dapat saya terima. Saya telah mempelajarinya, saya sudah mempelajari semuanya — itu tidak dapat diterima,” kata Trump kepada penyiar Israel Kan.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyinggung operasi militer Amerika Serikat terhadap Israel yang menurutnya berjalan dengan sangat baik.
Sebelumnya, laporan dari Al Jazeera menyebutkan bahwa Iran telah mengajukan rencana tiga tahap kepada AS untuk mencapai perdamaian jangka panjang. Proposal tersebut disebut mencakup sejumlah langkah strategis, termasuk penghentian pengayaan uranium hingga 15 tahun.
Pada tahap pertama, Iran mengusulkan penghentian total permusuhan antara AS dan Iran dalam waktu 30 hari. Selain itu, rencana tersebut juga mencakup penerapan gencatan senjata di seluruh kawasan, serta kesepakatan non-agresi antara kedua negara yang melibatkan sekutu Iran di kawasan dan Israel.
Tak hanya itu, Iran juga mengusulkan pembentukan mekanisme pemantauan internasional guna mengawasi potensi pelanggaran selama masa gencatan senjata berlangsung.
Memasuki tahap kedua, proposal tersebut berisi rencana pembekuan kegiatan pengayaan uranium selama 15 tahun. Setelah itu, akan diberlakukan pembatasan tingkat pengayaan hingga 3,6 persen sesuai dengan prinsip zero storage atau tanpa penyimpanan cadangan.
Sementara pada tahap ketiga, Iran mengusulkan dimulainya dialog strategis dengan negara-negara Arab dan negara tetangga di kawasan. Tujuannya adalah membangun sistem keamanan bersama yang lebih stabil dalam jangka panjang.
Meski proposal tersebut dinilai cukup komprehensif, penolakan dari pihak AS menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan damai antara kedua negara masih menghadapi tantangan besar.
Sumber: Sputnik_OANA