Istanbul (KABARIN) - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan kapal tanker minyak Malaysia akan diizinkan melewati Selat Hormuz.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas izin tersebut, kantor berita Bernama melaporkan.
"Sekarang kami sedang dalam proses melepaskan kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja yang terlibat agar mereka dapat melanjutkan perjalanan pulang," kata Anwar dalam pidato di televisi, Kamis (26/3) .
"Namun, ini tidak mudah karena Iran merasa telah berkali-kali ditipu dan sulit menerima langkah menuju perdamaian tanpa perjanjian yang mengikat dan jaminan keamanan," katanya, menambahkan.
Menurut Anwar, dampak konflik telah meluas ke Lebanon, di mana "lebih dari 1 juta orang kehilangan rumah dan harta benda mereka."
Ia juga menegaskan bahwa akar konflik di Palestina dan Gaza masih belum terselesaikan dan terus memperburuk situasi.
Anwar menegaskan Malaysia akan terus memainkan peran aktif dalam mendukung upaya perdamaian kawasan.
Malaysia, katanya, mengambil "sikap tegas terhadap ketidakadilan, penindasan, dan agresi yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat."
Namun, ia mengatakan situasi menjadi lebih kompleks karena respons Iran juga berdampak pada negara-negara Teluk.
Ia juga mengatakan telah berbicara dengan Pezeshkian dan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi untuk membahas eskalasi di Timur Tengah.
Anwar melakukan panggilan telepon pada Kamis pagi dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif untuk ketiga kalinya guna membahas upaya Pakistan mencapai perdamaian di kawasan.
Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari, secara efektif terganggu sejak awal Maret.
Gangguan tersebut meningkatkan biaya pengiriman dan mengerak harga minyak global.
Eskalasi terus berlanjut sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Iran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, serta wilayah di Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Serangan tersebut menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan penerbangan.
Sumber: ANAD