Pakar Pertanian Unsoed Ingatkan Dampak El Nino Terhadap Produksi Pangan

waktu baca 3 menit

Purwokerto (KABARIN) - Fenomena El Nino kembali jadi perhatian serius, terutama buat sektor pertanian. Pakar pertanian dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Prof Totok Agung Dwi Haryanto, mengingatkan bahwa kondisi ini berpotensi menurunkan produksi pangan karena musim kemarau diprediksi berlangsung lebih lama dan suhu udara jadi lebih panas dari biasanya.

“Fenomena El Nino akan menyebabkan musim kemarau memanjang, sehingga berdampak pada pertumbuhan dan produksi tanaman, khususnya tanaman pangan dan hortikultura,” kata Prof Totok di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa.

Menurutnya, ada dua faktor utama yang bikin sektor pertanian terganggu saat El Nino terjadi: kekurangan air dan suhu udara yang meningkat. Kombinasi keduanya bisa bikin tanaman stres, pertumbuhan terhambat, bahkan berujung gagal panen.

Menariknya, sampai akhir Maret ini curah hujan di wilayah Jawa Tengah masih tergolong tinggi. Artinya, tanda-tanda awal musim kemarau belum terlihat jelas, meskipun sebelumnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sempat memprediksi kemarau akan datang lebih cepat.

Karena itu, Prof Totok menekankan pentingnya prediksi yang lebih akurat soal kapan kekeringan mulai terjadi. Ini penting supaya petani bisa menyesuaikan strategi sejak awal.

“Perlu kepastian kapan kekeringan mulai terjadi, sehingga petani bisa menyesuaikan pola tanam dan memilih jenis tanaman yang lebih toleran terhadap kondisi kering,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi, petani didorong untuk mulai beralih ke varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan, seperti padi gogo. Selain itu, kesiapan benih dalam jumlah cukup juga jadi kunci penting, apalagi prediksi kemarau 2026 sudah lama disampaikan BMKG.

Strategi lain yang disorot adalah percepatan masa tanam kedua (MT II). Dengan cara ini, tanaman bisa tumbuh optimal sebelum puncak musim kemarau datang.

“Pembibitan bisa dilakukan lebih awal, bahkan sebelum panen musim tanam pertama, sehingga setelah panen lahan bisa langsung diolah dan ditanami kembali,” katanya.

Selain soal tanaman, pengelolaan air juga jadi hal krusial. Prof Totok menyarankan pemanfaatan sumber air alternatif seperti sumur, serta penggunaan pompa air untuk menjaga suplai air tetap aman.

Di sisi lain, ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), terutama solar, ikut jadi faktor penting karena dibutuhkan untuk operasional pompa air dan alat mesin pertanian. Karena itu, ia mendorong adanya kebijakan pemerintah yang lebih berpihak ke petani.

“Perlu ada kebijakan yang memudahkan petani mendapatkan BBM dengan harga terjangkau, misalnya melalui skema subsidi atau distribusi khusus ke wilayah pertanian,” katanya.

Tak kalah penting, ia juga menyoroti soal irigasi. Menurutnya, perbaikan jaringan irigasi yang mengharuskan pengeringan saluran sebaiknya dibatasi selama musim kemarau, kecuali dalam kondisi mendesak.

“Jika tidak terlalu mendesak, perbaikan irigasi sebaiknya ditunda agar tidak mengganggu suplai air ke lahan pertanian, karena hal itu bisa berdampak pada proses tanam dan produksi,” katanya.

Dengan berbagai langkah antisipasi tersebut, Prof Totok berharap dampak El Nino bisa ditekan seminimal mungkin. Tujuannya jelas: produksi pangan tetap terjaga dan ketahanan pangan nasional tidak terganggu, meskipun cuaca sedang tidak bersahabat.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka