Istanbul (KABARIN) - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan proses mediasi yang dipimpin Pakistan antara Iran dan Amerika Serikat masih berjalan, meski menghadapi jalan yang sulit akibat rendahnya kepercayaan Teheran terhadap Washington.
Pernyataan itu disampaikan Araghchi saat berbicara kepada wartawan internasional di Kedutaan Besar Iran di New Delhi pada Jumat, di sela pertemuan menteri luar negeri BRICS.
Menurut Araghchi, Iran tetap membuka pintu diplomasi meski situasi gencatan senjata pascakonflik dengan AS dan Israel masih belum stabil.
“Pada kenyataannya, tidak ada solusi militer untuk apa pun yang berkaitan dengan Iran,” kata Araghchi.
Ia menegaskan Teheran hanya akan terlibat dalam “negosiasi nyata” apabila pihak lawan menunjukkan keseriusan dan benar benar menginginkan kesepakatan yang adil.
“Kami tidak percaya pada Amerika. Ini adalah fakta, dan ini adalah hambatan utama dalam upaya diplomatik apa pun,” tambahnya.
Araghchi juga menuding Washington sering mengirim pesan yang saling bertolak belakang selama proses negosiasi berlangsung.
“Terkadang dalam satu hari kami menerima dua pesan berbeda,” ujarnya.
Ia mencontohkan situasi setelah Presiden AS Donald Trump mengkritik respons Iran terhadap proposal AS melalui media sosial, namun di saat yang sama pihak Iran menerima pesan lain yang justru menunjukkan keinginan Washington untuk tetap melanjutkan dialog.
Selain itu, Araghchi mengungkapkan pembicaraan dengan AS kini menemui hambatan serius terkait stok uranium yang diperkaya milik Iran.
“Masalah material yang diperkaya kami sangat rumit, dan kami sekarang telah sampai pada kesimpulan dengan AS bahwa karena sangat sulit, kami hampir menemui jalan buntu pada masalah khusus ini,” katanya.
Meski begitu, kedua pihak disebut sepakat untuk menunda pembahasan isu tersebut ke tahap negosiasi berikutnya.
Terkait mediasi Pakistan, Araghchi mengatakan proses tersebut masih aktif walaupun penuh tantangan.
“Proses mediasi oleh Pakistan belum gagal, tetapi berada dalam jalur yang sangat sulit, terutama karena perilaku Amerika dan ketidakpercayaan yang ada di antara kita,” ujarnya.
Ia juga menyambut baik kemungkinan keterlibatan China dalam membantu proses diplomasi. Menurutnya, Beijing sebelumnya juga berperan penting dalam pemulihan hubungan Iran dan Arab Saudi.
“Kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan China. Kami adalah mitra strategis satu sama lain,” kata Araghchi.
Dalam kesempatan itu, Araghchi kembali menegaskan bahwa program nuklir Iran bersifat damai dan negaranya tidak berniat memiliki senjata nuklir.
Ia juga membahas kondisi Selat Hormuz yang disebut masih terbuka untuk kapal komersial, kecuali bagi negara yang sedang berkonflik dengan Iran.
“Sejauh yang kami ketahui, Selat Hormuz terbuka, dan semua kapal dapat melewatinya,” katanya.
Namun, ia menyebut kapal yang melintas tetap harus berkoordinasi dengan otoritas militer Iran karena masih ada ranjau dan hambatan di wilayah tersebut.
Araghchi turut menyinggung hubungan ekonomi Iran dengan India yang disebut sempat mencapai nilai perdagangan lebih dari 20 miliar dolar AS sebelum terkena dampak sanksi Amerika Serikat.
Ia juga menyebut Pelabuhan Chabahar sebagai simbol penting kerja sama Iran dan India dalam jalur perdagangan regional.
Sumber: ANAD