Apapun yang terjadi, saya yang akan bertanggung jawab, meski itu menjadi pukulan berat kalau berupa hasil buruk. Namun, saat ini tim dalam kondisi fokus dan tenang
Jakarta (KABARIN) - Pelatih timnas Italia Gennaro Gattuso tidak mau meremehkan Bosnia dan Herzegovina jelang final play-off A Piala Dunia 2026 zona Eropa. Laga krusial ini akan digelar Rabu (1/4) dini hari WIB di Zenica, kandang Bosnia.
Yang menarik, perhatian Gattuso bukan cuma ke tim lawan, tapi juga ke sosok pelatih Bosnia, Sergej Barbarez. Menurutnya, latar belakang Barbarez sebagai pemain poker justru jadi nilai plus dalam membaca pertandingan.
"Dia (Barbarez-red) adalah pemain poker yang hebat. Oleh karena itu dia cerdas dan mengerti isi kepala para pemainnya," ujar Gattuso, dikutip dari laman Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Selasa.
Barbarez memang dikenal aktif di dunia poker sejak pensiun sebagai pemain sepak bola pada 2008. Ia bahkan rutin mengikuti turnamen poker tingkat dunia, yang membuatnya terbiasa membaca situasi dan mengambil keputusan strategis.
Gattuso juga sempat menanggapi candaan Barbarez yang menyebut timnya akan “parkir bus” jika unggul lebih dulu. Meski terdengar santai, Gattuso memastikan Italia sudah siap menghadapi berbagai kemungkinan di lapangan.
"Apapun yang terjadi, saya yang akan bertanggung jawab, meski itu menjadi pukulan berat kalau berupa hasil buruk. Namun, saat ini tim dalam kondisi fokus dan tenang," tuturnya.
Dari sisi pemain, Gattuso menyoroti ancaman dari lini depan Bosnia, khususnya striker veteran Edin Dzeko. Meski sudah berusia 40 tahun, Dzeko dinilai masih tajam dan berbahaya di depan gawang.
"Dua penyerang mereka (Bosnia-red) termasuk Dzeko mempunyai pergerakan bagus untuk menerima umpan silang. Saya berhubungan baik dengan Dzeko. Dia seorang profesional, sang juara dan orang yang baik," kata Gattuso.
Pengalaman Dzeko juga jadi nilai tambah. Ia pernah membela klub-klub besar seperti Manchester City, AS Roma, hingga Inter Milan, dan meraih banyak trofi sepanjang kariernya.
Sementara itu, kiper utama Italia Gianluigi Donnarumma mengakui timnya tidak lepas dari tekanan. Apalagi, Italia sudah dua kali absen dari Piala Dunia, yakni pada 2018 dan 2022. Terakhir kali mereka tampil di ajang tersebut adalah pada 2014.
"Kami juga manusia yang merasakan tekanan. Namun, kami mesti menyimpan energi untuk pertandingan. Kami akan memberikan segalanya di lapangan. Itu akan menjadi laga yang sengit," ujar Donnaruma.
Dengan tekanan tinggi dan lawan yang tidak bisa dianggap enteng, duel ini dipastikan berjalan panas. Italia harus tampil maksimal jika ingin kembali ke panggung Piala Dunia setelah absen cukup lama.
Sumber: ANTARA