Jakarta (KABARIN) -
Ketua Satuan Tugas Imunisasi Dewasa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD, K-A.I, FINASIM menekankan pentingnya edukasi publik dan peningkatan cakupan vaksinasi sebagai langkah utama dalam menekan penyebaran campak di Indonesia.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Alergi Imunologi itu mengatakan upaya pencegahan perlu dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan tenaga kesehatan, pemerintah, serta masyarakat.
Menurut Sukamto dalam PAPDI Forum dan konferensi pers di Jakarta, Selasa, vaksinasi merupakan bentuk investasi kesehatan jangka panjang yang lebih efisien dibandingkan biaya yang harus ditanggung apabila terjadi wabah.
“Kalau dihitung, vaksin itu investasi. Biayanya jauh lebih kecil dibandingkan dampak yang ditimbulkan jika terjadi outbreak,” kata Sukamto.
Ia menjelaskan, biaya vaksin campak berkisar Rp300 ribu hingga Rp600 ribu per dosis, sementara dampak wabah dapat jauh lebih besar, mulai dari biaya perawatan di rumah sakit hingga potensi kehilangan produktivitas masyarakat.
Selain itu, wabah penyakit menular juga dapat meningkatkan beban sistem kesehatan serta berdampak pada kondisi sosial dan ekonomi.
Sukamto menambahkan, rendahnya cakupan vaksinasi dapat membuka peluang bagi virus untuk menyebar lebih luas, terutama pada kelompok yang belum memiliki kekebalan.
Oleh karena itu, edukasi dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan pemahaman masyarakat serta mengatasi keraguan terhadap imunisasi.
Ia menegaskan tenaga kesehatan memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi yang benar dan mudah dipahami kepada pasien.
Menurut dia, komunikasi yang aktif, jelas, dan persuasif dari dokter dapat meningkatkan penerimaan vaksinasi, termasuk pada masyarakat yang sebelumnya ragu.
PAPDI mencatat terdapat lebih dari 6.300 dokter spesialis penyakit dalam di seluruh Indonesia yang dapat berperan sebagai agen edukasi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat.
Sumber: ANTARA