Istanbul (KABARIN) - Pemerintah Australia mulai mengambil langkah serius menghadapi dampak konflik bersenjata di Timur Tengah yang kini berimbas ke pasokan energi global. Warga pun didesak untuk mulai berhemat, termasuk dengan beralih ke transportasi umum.
Seruan ini disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Anthony Albanese dalam pidato nasional yang jarang dilakukan, Rabu (1/4). Ia mengingatkan bahwa situasi ke depan tidak akan mudah.
Memperingatkan bahwa "bulan-bulan ke depan mungkin tidak mudah," Albanese mengatakan: "jika kamu bepergian dengan kendaraan pribadi, jangan membawa bahan bakar lebih dari yang kamu butuhkan."
Ia juga secara khusus mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
"Jika kamu dapat beralih menggunakan kereta api, bus, atau trem untuk bekerja, lakukanlah. Itu akan membangun cadangan kita dan menghemat bahan bakar bagi masyarakat," kata Albanese.
Saat ini, Australia bahkan sudah mulai menggunakan cadangan energi strategisnya. Pemerintah juga mengambil langkah tambahan dengan memesan cadangan bahan bakar darurat dari Amerika Serikat, yang menjadi pertama kalinya dalam beberapa dekade.
Padahal, secara data, ketergantungan Australia terhadap energi dari Timur Tengah sebenarnya cukup kecil, hanya sekitar 2 persen dari total kebutuhan energi pada 2024. Meski begitu, dampak konflik tetap terasa karena pasar energi global ikut terguncang.
Untuk menekan beban masyarakat, pemerintah juga telah memangkas pajak bahan bakar hingga setengahnya.
"Kami berupaya menurunkan harga bahan bakar, memproduksi lebih banyak bahan bakar di sini, dan menjaganya tetap di dalam negeri," katanya.
Albanese juga menyoroti lonjakan harga energi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"...perang di Timur Tengah telah menyebabkan 'kenaikan harga bensin dan solar terbesar dalam sejarah.'"
Selain itu, pemerintah Australia berupaya memperkuat pasokan dari negara mitra.
"Dan mendapatkan lebih banyak bahan bakar di sini, menggunakan hubungan perdagangan kita yang kuat dengan kawasan ini untuk membawa lebih banyak bensin, solar, dan pupuk ke Australia," kata Albanese.
Meski berbagai langkah sudah diambil, ia mengakui bahwa situasi ini tidak bisa sepenuhnya dikendalikan.
"tidak ada pemerintah yang dapat menjanjikan untuk menghilangkan tekanan yang disebabkan oleh perang ini."
Namun, Albanese tetap optimistis warga Australia bisa menghadapi situasi ini bersama-sama.
"Ini adalah masa-masa yang tidak pasti, tetapi saya benar-benar yakin akan hal ini: kita akan menghadapi tantangan ini dengan cara Australia, bekerja sama dan saling menjaga, seperti yang selalu kita lakukan," tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa meskipun Australia tidak terlibat langsung dalam konflik, dampaknya tetap dirasakan oleh masyarakat.
Australia sendiri bukan "peserta aktif" dalam konflik tersebut, tetapi menurut Albanese, "semua warga Australia membayar harga yang lebih tinggi karena hal itu."
Konflik di Timur Tengah memang terus memanas sejak serangan yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan itu dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menyasar sejumlah negara di kawasan, termasuk Israel, Yordania, Irak, hingga negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan balasan ini menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan jalur penerbangan internasional.
Dalam konflik yang masih berlangsung ini, sedikitnya 13 prajurit AS dilaporkan tewas dan puluhan lainnya terluka.
Situasi makin krusial karena Iran kini memegang kendali efektif atas Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia. Kondisi ini membuat pasokan energi ke Asia terganggu dan berdampak langsung ke berbagai negara, termasuk Australia.
Sumber: ANAD