Jakarta (KABARIN) - Dietisien dari Rumah Sakit Pelni Maulina Juwita Ardiana, S.Gz., RD mengatakan makanan padat gizi yang terdiri dari karbohidrat, sayur, protein hingga kandungan vitamin dan mineral yang seimbang penting dipenuhi anak untuk pertahanan sistem imun serta perkembangan kognitifnya.
"Kekurangan asupan zat gizi jangka panjang pada anak terbukti secara ilmiah meningkatkan risiko penyakit infeksi karena lemahnya sistem imun, terhambatnya perkembangan motorik dan kognitif anak, penurunan performa di sekolah, hingga meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular ketika dewasa," jelas Maulina kepada ANTARA di Jakarta pada Rabu.
Ia mengatakan, terkadang masalah yang masih sering terjadi di tengah masyarakat adalah memberikan makanan pada anak tanpa melihat kecukupan kandungan gizi pada makanan itu sendiri.
Makanan instan dan cepat saji yang tinggi kalori serta lemak jahat, namun sangat kurang dari segi vitamin dan mineral, justru sering jadi jalan keluar bagi orang tua agar anak tetap mau makan.
Menurut Maulina, anak identik dengan masa pertumbuhan dan perkembangan sehingga protein adalah zat gizi yang sangat penting untuk dapat menunjang proses tersebut.
"Kebutuhan protein anak meningkat seiring bertambahnya usia, berat badan, dan aktivitas fisik yang pastinya tidak dapat disamaratakan sehingga ada baiknya untuk berkonsultasi lebih lanjut dengan ahli gizi atau dokter anak," katanya.
Ia mengatakan, kebutuhan protein anak memang belum sebesar orang dewasa namun sumber protein hewani yang beragam harus selalu dipastikan ada dalam setiap piring si kecil mulai dari ayam, ikan, telur, daging, udang, tahu, tempe, kacang-kacangan, dan ragam lainnya. Disamping itu, protein bisa juga didapatkan dari produk susu.
Ia juga menganjurkan porsi sayur dan buah untuk anak-anak berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang yang dikeluarkan Kemenkes, yakni pada anak usia sekolah dianjurkan mencukupi konsumsi sayuran 200-250 gram sehari, dan buah 100-150 gram sehari.
Sedangkan untuk anak balita tetap perlu diberikan dalam porsi yang lebih kecil namun bertahap untuk membiasakan anak dalam mengonsumsi sayur dan buah.
"Sumber karbohidrat, protein, sayur, dan buah yang kita miliki perlu kita manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi anak dengan pilihan bahan pangan yang beragam," katanya.
Jika melalui makanan padat kebutuhan zat gizi anak terpenuhi, Maulina mengatakan susu bisa dianjurkan untuk tambahan sumber protein, kalsium, magnesium, dan vitamin D yang sangat baik bagi anak.
Ia merekomendasi konsumsi susu untuk anak adalah 400-480 ml untuk anak usia 1-2 tahun, 480-600 ml untuk anak usia 2-8 tahun, dan 720 ml untuk anak usia 9-18 tahun.
Selain itu, untuk menjaga nutrisi makanan tetap terjaga, Maulina menyarankan untuk menggunakan proses memasak dikukus yang dapat membantu meminimalisir hilangnya vitamin yang dapat larut di air seperti vitamin C dan B kompleks. Sedangkan jika memasak dengan proses direbus sebaiknya air rebusan sayur tidak dibuang karena juga mengandung vitamin larut air.
Proses menumis juga dapat menjadi pilihan untuk meminimalisir kehilangan vitamin dan mineral yang sensitif terhadap suhu tinggi karena umumnya proses memasaknya tidak lama.
Sebaliknya, proses menggoreng dengan minyak yang banyak dan suhu tinggi dapat meningkatkan kehilangan beberapa zat gizi selama proses pemasakan.
Sumber: ANTARA