Jakarta (KABARIN) - Scarlett Johansson akhirnya buka suara soal pengalaman pahitnya saat merintis karier di Hollywood pada awal 2000-an. Menurutnya, masa itu jadi periode yang cukup keras, terutama buat aktris muda.
Dilansir dari Variety, Johansson menyebut saat itu perempuan di industri film sering banget dinilai dari penampilan, bukan kemampuan akting.
“Itu sulit. Banyak tekanan terkait penampilan perempuan. Peran atau peluang yang ditawarkan bagi perempuan seusia saya saat itu jauh lebih terbatas dibandingkan sekarang,” kata Johansson kepada CBS Sunday Morning.
Aktris kelahiran 1984 itu mengaku, pilihan peran yang tersedia waktu itu cenderung sempit dan repetitif. Banyak aktris muda, termasuk dirinya, mudah terjebak dalam satu tipe karakter yang sama.
“Anda akan sangat mudah terjebak dalam satu tipe peran dan terus ditawari hal yang sama. Biasanya hanya jadi perempuan lain, selingan, atau sosok seksi. Itu adalah pola karakter yang dominan saat saya seusia itu,” tutur dia.
Namun, seiring waktu, Johansson melihat perubahan yang cukup signifikan di industri film. Ia merasa sekarang sudah jauh lebih banyak peran yang kuat dan memberdayakan untuk perempuan muda.
Buat keluar dari stereotip tersebut, Johansson sempat mencari “pelarian” ke dunia teater di New York City. Ia juga memilih untuk tidak selalu mengambil setiap tawaran film yang datang, melainkan menunggu peran yang benar-benar sesuai.
“Itu sesuatu yang saya pelajari seiring waktu, tapi memang sulit. Begitu mulai bekerja, merasa setiap pekerjaan bisa jadi yang terakhir, sehingga ketika ada kesempatan, merasa harus mengambilnya. Meskipun mungkin tidak bervariasi seperti pekerjaan yang benar-benar memberi Anda kesenangan,” imbuh dia.
Menurutnya, tekanan seperti ini sebenarnya dirasakan hampir semua aktor, karena industri film memang sangat kompetitif.
“Dan ketika Anda sudah mendapat sorotan, Anda ingin tetap mempertahankannya. Itu naluri, terutama bagi aktor muda, bahkan semua aktor,” kata Scarlett Johansson.
Sebagai informasi, Johansson mulai dikenal luas sejak usia 17 tahun lewat film Lost in Translation pada 2003. Setelah itu, ia membintangi berbagai film populer seperti The Prestige, The Other Boleyn Girl, hingga Iron Man 2.
Perjalanannya ini jadi gambaran bagaimana kerasnya industri Hollywood di masa lalu, sekaligus menunjukkan perubahan yang mulai terjadi hingga sekarang.
Sumber: Variety