Warga Cengkareng Keluhkan Air PAM Suka Bau Got

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Warga di kawasan Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, kembali mengeluhkan sulitnya mendapatkan air bersih dari layanan PAM. Masalah ini bahkan bukan hal baru, mereka sudah merasakan selama puluhan tahun.

Salah satu warga, Nurliana Sihombing (61), mengaku persoalan air ini sudah dialaminya sejak pertama kali berlangganan sekitar 25 tahun lalu.

"Ya enggak belakangan (terjadi krisis air bersih), dari dulu. Kita pertama kali pasang kan bagus tuh, bening. Enggak berapa bulan, enggak keluar sama sekali, sampai sekarang selalu begitu. Nah, ke sini-ke sini, airnya kadang kayak susu, kadang kayak kopi warnanya, bau banget. Kayak bau got," ujar Nurliana kepada wartawan di lokasi, Selasa.

Perempuan yang sudah tinggal lebih dari 30 tahun di sana itu juga heran karena air justru mengalir bersih di waktu yang tidak biasa, yakni tengah malam.

"Herannya kita kenapa malam bagus banget airnya. Sekitar pukul 01.00 WIB hingga sampai pukul 04.30 WIB itu selalu bagus, setiap hari. Tapi kadang mau subuh itu juga udah bau airnya, sudah bau busuk," keluhnya.

Karena kondisi itu, Nurliana terpaksa mengubah rutinitas. Ia harus bangun dini hari hanya untuk menampung air bersih agar cukup digunakan seharian.

"Iya, kita bangun jam dua, jam tiga malam gitu buat ngisi air. Jadi kita sudah punya penampungan kayak ember berapa biji gitu. Terpaksa, habis kalau enggak begitu, enggak punya air bersih," katanya.

Kalau air yang ditampung kurang, ia bahkan harus mengurangi frekuensi mandi. Padahal, ia mengaku rutin membayar tagihan air sekitar Rp50 ribu setiap bulan.

"Masalahnya tuh sebenarnya enggak bayar itu doang, tapi kan bayar listrik juga. Karena air di sini enggak bisa ngalir kalau enggak pakai mesin pompa, jadi nambah lagi tagihan listriknya," tuturnya.

Nurliana berharap ada perbaikan serius dari pihak terkait, bukan sekadar solusi sementara yang tidak menyelesaikan masalah.

"Ya mudah-mudahan PAM itu dibenarin lah di mana. Maksudnya, anehnya kan kenapa kayak ada waktu-waktunya gitu lho nyalanya, padahal kita kan pakainya bayar, di situ saja kita heran," ujarnya.

Hal serupa juga disampaikan Ketua RT 05/RW 02 Rawa Buaya, Eka. Ia menyebut masalah air PAM sudah terjadi sejak lama, bahkan membuat sebagian warga beralih ke air tanah meski kualitasnya tidak selalu lebih baik.

Eka mengaku pernah mengalami kejadian tidak menyenangkan saat menampung air.

"Pas hidupin air PAM, dapat seember dua ember bagus kan airnya. Namun, setelah ditampung lagi tahu-tahu airnya sudah tercampur sama yang kotor, jadi bau semua gitu," katanya.

Ia bahkan sempat merugi saat menampung air di toren besar di rumahnya.

"Itu tengah malam buka kran biar nampung di toren, eh pas dibuka, Ya Allah kok hitam, bau got. Mana hampir penuh itu, tingginya seleher saya, masa mau dikuras, gimana? Padahal udah kehitung di meteran itu airnya," ucapnya.

Setelah kejadian itu, Eka memilih memutus sambungan PAM dan beralih ke air tanah, meski harus mengeluarkan biaya lebih.

Menurutnya, warga sudah sering melaporkan masalah ini, tapi belum ada solusi permanen. Bahkan, saat petugas datang, kondisi air bisa saja sedang normal, namun kembali bermasalah keesokan harinya.

"Ditanya kenapa alasannya, 'Mungkin ada kebocoran pas betulin jalan atau bagaimana' begitu jawabannya. Tapi, sampai sekarang enggak benar-benar. Cuma sering dikontrol di depan sana tuh, sering dibongkar-bongkar tapi tetap saja masih (kotor)," ungkapnya.

Kondisi ini membuat warga berharap adanya perbaikan menyeluruh agar akses air bersih tidak lagi jadi masalah sehari-hari.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka