Jakarta (KABARIN) - Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah mengevaluasi penugasan prajurit TNI di wilayah konflik, menyusul gugurnya tiga pasukan perdamaian asal Indonesia di Lebanon akibat serangan Israel.
“Pemerintah hendaknya melakukan evaluasi terhadap penugasan prajurit TNI dalam wilayah konflik,” kata dia dalam pidato penutupan Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2025–2026 di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa.
Evaluasi tersebut, imbuh dia, harus mencakup kejelasan misi, mandat, kesiapan operasional, serta perlindungan maksimal terhadap personel.
“Sesuai dengan standar praktik-praktik terbaik internasional dalam operasi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menuntut kesiapan dari aspek politik, kapasitas dan lingkungan operasi,” katanya.
Puan juga menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan saat melaksanakan misi kemanusiaan di Lebanon.
“Semoga putra-putra terbaik bangsa ini mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan. Amin,” ujarnya.
DPR RI menegaskan pentingnya pihak-pihak terkait untuk melakukan investigasi yang kredibel bersama PBB terkait insiden tersebut guna mengungkapkan fakta secara objektif.
“Upaya ini berlandaskan pada prinsip-prinsip utama misi perdamaian PBB, yaitu transparansi, akuntabilitas, serta penghormatan terhadap hukum internasional dan hak asasi manusia,” kata dia.
Sebelumnya, Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon, personel TNI yang bertugas dalam UNIFIL, gugur akibat tembakan artileri di sekitar posisi kontingen UNIFIL Indonesia di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan, pada Minggu (29/3).
Berselang sehari, PBB melaporkan dua anggota UNIFIL asal Indonesia lainnya gugur dalam serangan terhadap konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan, Lebanon selatan, pada Senin (30/3).
Dua prajurit yang gugur itu adalah Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan.
Sumber: ANTARA