Gas Non-Subsidi Makin Mahal, Pelaku Usaha Kecil Mulai Tertekan

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Salah satu agen di Jakarta Selatan (Jaksel) mengeluhkan kenaikan harga gas elpiji nonsubsidi ukuran 12 kilogram (kg) dalam beberapa hari terakhir.

“Kalau sekarang ini memang tinggi, lebih parah dari biasanya. Biasanya, kenaikan tidak sebesar ini,” kata pemilik agen gas elpiji Suryati Budi Rahayu saat ditemui di tokonya yang berlokasi di Jalan Haji Jian, Kelurahan Cipete Utara, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis.

Dia menilai lonjakan harga yang mencapai puluhan ribu rupiah itu memberatkan.

Suryati menyebutkan harga tabung gas 12 kg melonjak dari Rp210.000 menjadi Rp248.000, atau naik sekira Rp38.000 dalam waktu singkat.

Menurut dia, dampak langsung dari kenaikan tersebut, yaitu meningkatnya keluhan dari pelanggan, banyak konsumen yang mempertanyakan alasan di balik lonjakan harga yang dianggap mendadak itu.

“Paling banyak yang komplain, ‘Kok naik harganya?’ Tapi kami hanya bisa menjelaskan bahwa itu sudah kebijakan dari pusat. Informasinya juga sudah disampaikan lewat televisi,” ujar Suryati.

Meski gelombang protes sempat muncul, dia menilai daya beli masyarakat terhadap elpiji 12 kg belum mengalami penurunan signifikan.

Dia mengatakan transaksi penjualan masih berjalan normal dalam beberapa hari terakhir.

“Memang ada komplain di awal, tapi lama-lama biasanya juga kembali normal. Sejauh ini, orderan masih berjalan, belum terlihat ada penurunan,” tutur Suryati.

Akan tetapi, dia mengakui kenaikan harga yang baru berlangsung sekitar dua sampai tiga hari terakhir ini belum dapat memastikan dampak jangka panjang ke depannya.

Di sisi lain, Suryati menilai kebijakan kenaikan harga tersebut kurang wajar, terutama di tengah kondisi ekonomi yang sedang menekan berbagai sektor.

Dia pun menyoroti pengguna elpiji 12 kg yang tidak hanya berasal dari kalangan atas, tetapi juga pelaku usaha kecil, seperti laundry dan rumah makan.

Kenaikan harga elpiji yang terjadi bersamaan dengan meningkatnya harga kebutuhan pokok lainnya, kata dia, semakin memperberat beban masyarakat.

“Kasihan juga, apalagi sembako juga naik semua, plastik-plastik naik, semuanya naik, jadi sulit," ungkap Suryati.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka