Oto

Servis Kendaraan Masih Normal Meski Nilai Tukar Rupiah Melemah

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kini mencapai Rp18 ribu lebih, tidak menyurutkan pemilik kendaraan dalam merawat kendaraan mereka sesuai jadwal.

Founder dari Anyar Motor, Bram mengaku bahwa aktivitas servis kendaraan masih berjalan normal meski biaya beberapa komponen di otomotif mengalami kenaikan akibat tingginya nilai tukar dolar.

“Hingga saat ini, tidak ada perubahan pola perawatan. Konsumen tetap datang sesuai jadwal servis seperti biasa,” kata Bram kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Menurutnya, dampak yang paling terasa justru terjadi pada harga bahan dan suku cadang yang masih bergantung pada impor.

Harga oli tercatat naik sekitar 10-17 persen sejak awal tahun, sementara bahan baku perbaikan bodi seperti cat, pernis, dan dempul mengalami kenaikan hingga 20 persen.

Meski dalam kondisi seperti saat ini, bengkel independen yang ia tekuni juga masih tetap kedatangan konsumen baru.

Biasanya, konsumen itu merupakan pemilik kendaraan yang sudah tidak lagi memiliki garansi resmi dari perusahaan otomotif.

“Memang ada satu atau dua konsumen baru. Yang banyak masuk, biasanya yang masa garansinya sudah habis di bengkel resmi, nah itu banyak yang masuk,” ujar dia.

Hal tersebut juga dikatakan oleh Ardhi Setyo yang sedang melakukan perawatan kaki-kaki dari kendaraan yang sudah digunakan selama enam tahun.

Menurutnya, perbaikan kendaraan harus tetap dilakukan meski dalam kondisi dan situasi seperti saat ini.

Untuk mengakali harga yang cukup tinggi di kategori komponen genuine, dirinya justru lebih memiliki atau menggunakan produk-produk aftermarket yang sudah teruji.

“Kalau saya sih, untuk saat ini menggunakan produk aftermarket untuk komponen kaki-kaki kendaraan saya. Harga yang cukup terjangkau dan kekuatannya juga tidak jauh berbeda ya,” ucap dia.

Dengan demikian, tingginya harga komponen orisinal atau genuine membuka peluang bagi pasar suku cadang aftermarket.

Produk aftermarket yang telah memiliki rekam jejak kualitas baik dari Jepang, Taiwan, maupun Eropa kini semakin banyak dipertimbangkan konsumen sebagai alternatif yang lebih ekonomis.

Selain Ardhy Setyo, Randi yang juga sedang melakukan perawatan rutin seperti penggantian pelumas dan pengecekan komponen lainnya, tidak merasa keberatan dengan meningkatnya harga pelumas yang diakui memiliki peningkatan dari sebelumnya.

“Dengan kondisi seperti ini, kita juga harus sama-sama mengerti. Perawatan kendaraan juga kan tetap harus dijalankan. Kalau tidak, pengeluaran biaya perbaikan malah justru lebih tinggi kalau tidak rutin,” tegas dia.

Meski harga suku cadang dan bahan pendukung meningkat, pelaku bengkel mengingatkan pentingnya tetap melakukan servis rutin. Perawatan berkala dinilai jauh lebih hemat dibandingkan menunda perbaikan hingga kerusakan menjadi lebih parah.

Di tengah tekanan nilai tukar, industri bengkel melihat peluang baru, di mana konsumen menjadi lebih selektif dalam berbelanja komponen, tetapi tidak meninggalkan perawatan kendaraan.

Bagi pelaku usaha, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan menjaga kendaraan tetap prima masih menjadi prioritas, meski biaya operasional terus menghadapi tekanan akibat menguatnya dolar AS.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka