Pakar Menilai Indonesia Untung Banyak dari Kerja Sama Militer dengan Korsel

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Pakar pertahanan dan hubungan internasional Binus University Curie Maharani menilai Indonesia akan menerima banyak keuntungan jika terus membangun kerja sama di bidang militer dengan Korea Selatan (Korsel).

Hal tersebut dikatakan Curie mengingat Indonesia sempat terlibat dalam beberapa proyek kerja sama militer, mulai dari pengembangan sumber daya manusia (SDM) prajurit, kerja sama di bidang AI dan pembuatan pesawat tempur KF-21 Boramae.

‘’Meski Indonesia dan Korsel sama-sama bukan negara inovator teknologi pertahanan, Korsel bernilai strategis bagi Indonesia sebagai penyuplai, pemandu utama, dan kolaborator norma,’’ kata Curie saat acara pembukaan Lomba Menulis yang diselenggarakan Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) bertema ‘’Kemitraan Strategis RI-Korsel 2026: Pertahanan, AI, dan Pengembangan SDM’’ seperti dikutip siaran pers resmi yang diterima di Jakarta, Jumat.

Curie pun merinci beberapa keuntungan yang akan didapat Indonesia dari kerja sama ini. Pertama, sebagai sumber akses bagi Indonesia untuk mendapatkan teknologi standar Barat dari tangan kedua.

"Dengan demikian, Indonesia mempunyai kesempatan untuk meningkatkan kualitas teknologi alat utama sistem senjata (alutsista) berikut SDM-nya," ujarnya.

Kedua, kata Cure, Korsel sebagai raksasa baru industri pertahanan dunia dengan konsumen global, membutuhkan rantai suplai berdaya saing yang memungkinkan diisi oleh Indonesia.

Dengan bekerja sama dengan Indonesia, menurut dia, Korea Selatan akan mendapatkan kepastian dari segi kepastian produk, logistik hingga pendistribusian produk.

Ketiga, lanjut Curie, baik Indonesia maupun Korea Selatan, bisa lebih fokus dalam pengembangan penggunaan AI di sektor pertahanan.

‘’Indonesia perlu menyusun strategi yang tepat untuk memaksimalkan potensi kemitraan dengan Korsel tersebut,’’ paparnya.

Curie pun menyoroti secara khusus kerja sama antara Indonesia dan Korea Selatan di bidang pengembangan KF-21 Boramae. Menurut dia, kerja sama itu merupakan proyek strategis karena berdampak pada kemandirian industri pertahanan Indonesia.

Meskipun, menurut dia, ekspektasi awal Indonesia akan proyek ini perlu disesuaikan dengan realitas terkini.

“Pengembangan KF-21 tetap strategis meski mungkin manfaat yang akan didapat tidak sama seperti yang diperhitungkan di awal," kata dia.

"Harapannya, penambahan mitra baru dalam pengembangan versi lanjutan KF-21 akan mengurangi cost share dan risiko kegagalan yang ditanggung kedua negara,” sambung Curie.

Kendati demikian, Curie tetap optimistis kerja sama ini akan membawa dampak kemajuan di bidang peningkatan teknologi alutsista TNI.

Kegiatan Lomba menulis yang digelar ISDS ini berlangsung mulai 17 April hingga 7 Juni 2026 yang bisa diikuti seluruh kalangan masyarakat yang usianya di atas 17 tahun. Info selengkapnya tentang lomba ada pada https://bit.ly/Lomba-RI-Korsel.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka