Indonesia Peringkat Kedua Ketahanan Energi Global Versi JP Morgan

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai laporan JP Morgan Asset Management yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara paling tahan terhadap guncangan energi mencerminkan kuatnya ketahanan energi nasional.

Dalam laporan Eye on the Market bertajuk Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026 yang dirilis 21 Maret 2026, Indonesia berada di posisi kedua negara paling resilien terhadap gejolak energi global.

“Hasil ini bukan sekadar apresiasi atas kondisi saat ini, melainkan validasi atas pilihan kebijakan jangka panjang pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber energi domestik dan akselerasi transisi energi,” kata Airlangga di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, capaian tersebut memberi ruang fiskal yang lebih terkendali bagi APBN 2026, sekaligus membantu menjaga daya beli masyarakat dan keberlangsungan dunia usaha di tengah volatilitas harga energi global.

Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai berbagai risiko dengan memperkuat kebijakan, antara lain optimalisasi produksi migas domestik untuk menekan defisit neraca energi serta meningkatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Selain itu, percepatan transisi menuju energi baru terbarukan (EBT) terus didorong melalui berbagai perencanaan nasional, termasuk pengembangan kendaraan listrik berbasis baterai serta diversifikasi sumber pasokan dan jalur logistik energi.

Dalam laporan tersebut, Indonesia mencatat insulation factor sebesar 77 persen, sedikit di bawah Afrika Selatan (79 persen), namun lebih tinggi dibandingkan China (76 persen) dan Amerika Serikat (70 persen).

Ketahanan energi Indonesia didukung oleh dominasi produksi batu bara domestik yang menyumbang sekitar 48 persen konsumsi energi nasional, disusul gas bumi 22 persen dan energi terbarukan sekitar 7 persen.

Indonesia juga dinilai memiliki tingkat ketergantungan rendah terhadap jalur distribusi energi global yang rentan, termasuk Selat Hormuz, dengan impor minyak dan gas hanya sekitar 1 persen dari total konsumsi energi primer.

Sebaliknya, sejumlah negara maju seperti Italia, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Belanda dinilai lebih rentan karena tingginya ketergantungan pada impor energi.

Ke depan, Airlangga menegaskan pemerintah akan terus mengoordinasikan kebijakan energi dan fiskal secara terintegrasi guna menjaga ketahanan tersebut sekaligus memastikan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku usaha.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka