Jakarta (KABARIN) - Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa Amaliah mengingatkan pentingnya penanaman pendidikan karakter sejak dini sebagai upaya mencegah praktik kecurangan, termasuk dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT).
“Itu jadi bagian yang sangat penting harus ditumbuhkan sejak awal. Pembangunan karakter oleh orang tua, oleh guru bukan bab gengsi, ini bab ilmu untuk keberkahan di masa yang akan datang,” kata Ledia dikutip di Jakarta, Jumat.
Pernyataan tersebut disampaikan merespons temuan kecurangan oleh sejumlah peserta dalam pelaksanaan UTBK SNBT 2026 di beberapa lokasi.
Menurut Ledia, praktik kecurangan mencerminkan persoalan mendasar terkait niat dan integritas peserta. Ia menegaskan keberhasilan yang diraih dengan cara tidak jujur tidak akan membawa manfaat.
“Kalau memang niatnya sudah tidak benar, pasti akan jadi tidak benar dan ilmunya juga tidak berkah,” ujarnya.
Ia juga menilai perkembangan teknologi menuntut sistem pengawasan yang lebih ketat. Penyelenggara, kata dia, harus mampu mengantisipasi berbagai modus kecurangan, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Kita perlu mendorong supaya mereka mau melakukan pengawasan sejak awal dan juga harus diantisipasi karena dengan kecanggihan teknologi seperti sekarang ini, hanya sekadar difoto soal bisa dijawab oleh AI,” kata dia.
Meski demikian, Ledia menegaskan penggunaan AI tidak dapat menggantikan kemampuan peserta yang sesungguhnya. Selain penguatan pengawasan teknis, ia kembali menekankan pentingnya peran keluarga dan sekolah dalam membangun karakter dan menanamkan nilai kejujuran.
“Itu jadi bagian yang sangat penting harus ditumbuhkan sejak awal, pembangunan karakter oleh orang tua, oleh guru, bahwa bukan bab gengsi, ini bab ilmu untuk keberkahan di masa yang akan datang,” katanya.
Ia juga meminta kampus dan penyelenggara UTBK menyiapkan sistem keamanan yang lebih baik, termasuk meninjau kebijakan terkait barang bawaan peserta seperti telepon genggam dan perangkat teknologi lainnya.
Menurut Ledia, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, persoalan utama tetap kembali pada niat dan integritas peserta dalam mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi secara jujur dan adil.
Sumber: ANTARA