Kementerian ESDM Uji Coba Penggunaan BBM B50 pada Kereta Api

waktu baca 3 menit

Yogyakarta (KABARIN) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai melakukan uji penggunaan bahan bakar B50 pada mesin diesel kereta api, salah satunya di PUK Lempuyangan, Kota Yogyakarta.

"Yang sektor kereta api ini dilakukan uji dua hal. Di Lempuyangan sampai dengan Jakarta untuk uji genset, seperti yang kita lihat pengisian di genset yang nantinya dilakukan selama 2.400 jam," kata Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Alistiani Dewi dalam sambutan di PUK Lempuyangan Yogyakarta, Senin.

Ia menjelaskan, B50 merupakan campuran 50 persen solar dengan 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati. Selain di stasiun Lempuyangan, pengujian juga dilakukan pada lokomotif rute Surabaya–Jakarta selama enam bulan.

"Jadi nanti terakhir untuk uji penggunaan B50 di perkeretaapian pada Oktober 2026. Jadi kita melaksanakan uji di kondisi yang sesungguhnya untuk kita bisa melihat hasilnya seperti apa," katanya.

Eniya menambahkan, rangkaian pengujian B50 telah dimulai sejak tahun lalu sebagai persiapan implementasi yang direncanakan berjalan mulai 1 Juli 2026. Uji jalan dalam kondisi nyata sudah dilakukan sejak 9 Desember 2025 setelah melalui berbagai tahapan uji laboratorium.

"Jadi sejak 9 Desember kita sudah mulai seluruh rangkaian dari uji pelaksanaan di otomotif, di pertambangan, di alat pertanian, di perkapalan, di genset, dan terakhir ini uji di perkeretaapian karena harus nunggu Lebaran selesai. Jadi baru kali ini kita uji untuk yang kereta," katanya.

Ia menyebut program B50 telah melalui proses panjang sekitar 15 tahun dan menjadi salah satu inovasi yang saat ini hanya diterapkan di Indonesia. Bahkan, menurutnya, Indonesia kini menjadi salah satu negara terdepan dalam penerapan biodiesel campuran tinggi tersebut.

"Bahkan tidak ada rujukan teknis yang bisa kita akses. Jadi tidak ada contohnya, ini yang membuat kebanggaan kita sendiri. Bahkan, saat ini negara lain buru-buru berbondong-bondong ke negara kita, berkontak bagaimana menjalankan B50, karena benar rujukan, contohnya tidak ada selain di kita," katanya.

Karena itu, ia menilai uji coba ini sangat penting untuk memastikan kesiapan implementasi B50 secara nasional. Ia juga menyebut pelaku usaha telah meningkatkan spesifikasi FAME yang digunakan dalam campuran biodiesel tersebut bersama solar dari Pertamina Patra Niaga.

Sementara itu, Direktur Pengelola Sarana Prasarana PT KAI Heru Kuswanto menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan uji coba B50 di sektor perkeretaapian.

Ia menjelaskan bahwa B50, yang merupakan campuran 50 persen minyak sawit dan 50 persen solar, bertujuan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong energi yang lebih ramah lingkungan.

Program ini dinilai memiliki manfaat strategis, mulai dari pengurangan emisi karbon, penguatan kemandirian energi, hingga diversifikasi sumber energi dan optimalisasi sektor domestik.

PT KAI sendiri turut mendukung uji coba melalui pengujian pada Kereta Api Bogowonto serta bekerja sama dengan Kementerian ESDM dan Lemigas untuk mengevaluasi performa mesin lokomotif dan genset, termasuk pada kondisi beban tinggi menggunakan B50 dan B30.

"Hal yang paling penting dipastikan adalah menjaga keselamatan, keamanan, dan evaluasi teknis berkelanjutan untuk menjaga keandalan sarana. Harapannya ini berjalan lancar dan memberikan manfaat optimal bagi industri perkeretapaian dalam mendukung transisi energi nasional, dan transportasi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan," katanya.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka