Jakarta (KABARIN) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengkaji pengembangan teknologi bantalan rel berbasis karet komposit sebagai upaya meningkatkan keamanan dan keselamatan transportasi kereta api di Indonesia.
Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian menyampaikan hal tersebut di Jakarta, Selasa, sebagai respons atas kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak KRL di wilayah Bekasi Timur pada Senin (27/4).
"BRIN telah berkontribusi dalam desain dan riset sistem kereta api, termasuk pada kereta LRT dan kereta di jalur Makassar–Parepare, Sulawesi Selatan. Selain itu, riset juga dilakukan pada material seperti bantalan rel berbasis karet komposit untuk meningkatkan keselamatan dan umur pakai infrastruktur kereta api," katanya.
Ia menjelaskan bahwa riset tersebut tidak hanya berfokus pada material, tetapi juga mencakup pengembangan sistem keamanan lintasan kereta api yang dapat terintegrasi secara otomatis dengan masinis.
Selain itu, BRIN juga meneliti dampak medan magnet dari lokomotif terhadap kendaraan di sekitar rel, termasuk kemungkinan pengaruhnya terhadap mobil listrik.
Menurut Amarulla, medan magnet yang dihasilkan sistem kelistrikan lokomotif perlu dikaji lebih lanjut agar tidak mengganggu lalu lintas di sekitar jalur rel.
"Kemudian, tidak hanya terkait teknologi atau sistem perkeretaapian, tetapi apakah betul mobil listrik misalnya, terpengaruh oleh medan magnet yang besar di kereta api, itu juga merupakan salah satu kajian dari BRIN," ucapnya.
Ia menambahkan perlunya kajian mengenai metode netralisasi medan magnet di sekitar lintasan kereta agar tidak mengganggu kendaraan yang melintas di dekat jalur rel.
"Jadi, medan magnet yang besar itu dihasilkan oleh kereta api yang mau lewat. Karena sumber di lokomotif itu besar sekali listriknya, magnetnya itu terhantar sampai ke kereta api di depannya, ini mungkin perlu kita kaji atau riset bagaimana untuk netralisasi medan magnet di sekitaran lintasan kereta api itu supaya tidak mengganggu lalu lintas mobil yang akan lewat," tuturnya.
Sementara itu, berdasarkan data terbaru, kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur tersebut mengakibatkan 14 orang meninggal dunia dan 84 orang mengalami luka-luka.
PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyatakan seluruh biaya pengobatan korban luka dan pemakaman korban meninggal akan ditanggung oleh perusahaan dan pihak asuransi.
Saat ini para korban luka telah dirawat di sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk RSUD Bekasi, RS Polri Kramat Jati, serta beberapa rumah sakit lain di wilayah Bekasi.
Sebagai langkah darurat, KAI juga telah membuka posko informasi dan posko tanggap darurat di Stasiun Bekasi Timur untuk membantu keluarga korban mendapatkan informasi serta penanganan barang milik penumpang.
Sumber: ANTARA