Bung Kus Sebut Kegagalan di Piala Thomas Harus Dimaknai Serius

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Pengamat bulu tangkis Indonesia Mohamad Kusnaeni atau yang akrab disapa Bung Kus menyebut kegagalan tim bulu tangkis putra Indonesia di Piala Thomas 2026 di Denmark harus dimaknai secara serius oleh Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI).

"Kegagalan kali ini harus dimaknai secara serius karena ini pertanda telah bergesernya peta kekuatan bulu tangkis dunia," kata Mohamad Kusnaeni ketika dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.

Tim putra Indonesia harus menerima kenyataan pahit tersingkir di fase grup Piala Thomas 2026 setelah takluk 1-4 dari Prancis pada laga penentuan Grup D di Forum Horsens, Denmark.

Kusnaeni menganggap kegagalan tim Merah Putih lolos dari fase grup merupakan sebuah tragedi karena merupakan yang pertama kali dalam sejarah Indonesia di ajang Piala Thomas. Padahal, Indonesia merupakan pemegang 14 gelar juara Piala Thomas. Dalam tiga edisi terakhir, Indonesia juga selalu mencapai final.

"Padahal tim Thomas Cup Indonesia datang ke Denmark dengan skuad terkuat. Hampir semua pemain terbaik kita di sektor tunggal maupun ganda ikut berangkat," ujarnya.

Ia mengatakan, dari segi strategi, tidak ada yang salah dengan susunan pemain yang diturunkan. Kombinasi ganda putra yang dipilih juga tidak aneh ataupun mengejutkan.

Aspek yang kurang memenuhi harapan, kata dia, justru performa para pemain itu sendiri yang tidak mampu menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Hal itu, menurutnya, sudah terlihat saat Indonesia menang tipis 3-2 atas Thailand. Di luar dugaan, Alwi Farhan kalah dari Panitchaphon Teeraratsakul yang secara peringkat berada di bawahnya.

Dua penampilan terakhir Jonatan Christie, yang akrab disapa Jojo, sebagai tunggal pertama juga dinilai kurang meyakinkan. Ia kalah dari Kunlavut Vitidsarn, bahkan juga takluk dari Christo Popov.

"Tentunya harus ada evaluasi menyeluruh dari PP PBSI atas kegagalan ini," katanya.

Kusnaeni menilai Indonesia bukan lagi negara yang superior di olahraga bulu tangkis. Kondisi itu tercermin dari kekalahan telak 1-4 dari Prancis dan kemenangan tipis 3-2 atas Thailand.

"Padahal, kita belum bertemu dengan lawan berat sekelas China, Korea Selatan, atau Denmark. Tekanan bermain di fase grup sesungguhnya juga belum seberat di fase gugur nanti," katanya.

Menurut dia, sudah saatnya PBSI meregenerasi materi skuad beregu putra dengan memberikan kesempatan kepada generasi seperti Ubaidillah dan Indra/Joaquin.

Bulu tangkis Indonesia, kata dia, bisa saja mengalami fase menantang dalam satu hingga dua tahun ke depan seiring menuanya generasi Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, serta pasangan Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani. Generasi penerus, menurut dia, mungkin tidak serta-merta langsung mengangkat kembali prestasi beregu putra.

"Tapi kita harus berani mengambil langkah regenerasi ini demi masa depan bulu tangkis Indonesia. Korea Selatan, Malaysia, bahkan China sudah lebih dulu berani melakukan hal itu dan sekarang mulai memetik hasilnya," katanya.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka