ANTAM Catat Laba Bersih Sebesar Rp3,66 Triliun pada Kuartal I 2026

waktu baca 3 menit

capaian ini diraih di tengah tantangan global, termasuk fluktuasi harga komoditas, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia

Jakarta (KABARIN) - PT ANTAM (Persero) Tbk (ANTM) membuka tahun 2026 dengan performa yang solid. Pada kuartal pertama (1Q26), perusahaan pelat merah ini mencatat laba bersih sebesar Rp3,66 triliun, melanjutkan tren pertumbuhan positif di tengah kondisi global yang penuh tantangan.

Direktur Utama ANTAM Untung Budiharto menyebut capaian ini diraih meski dunia sedang dihadapkan pada berbagai tekanan, mulai dari fluktuasi harga komoditas, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, hingga perlambatan ekonomi global.

Menurutnya, performa ini ditopang oleh fundamental operasional yang makin kuat. Beberapa faktor utama datang dari optimalnya segmen nikel, penguatan sourcing emas untuk menjaga pasokan, serta mulai beroperasinya pabrik smelter grade alumina (SGA) yang mendongkrak kinerja bauksit dan alumina.

Secara angka, laba periode berjalan ANTAM naik 58 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (1Q25) yang sebesar Rp2,32 triliun. Kinerja ini juga diikuti pertumbuhan EBITDA sebesar 55 persen menjadi Rp5,05 triliun dari sebelumnya Rp3,26 triliun.

Tak cuma itu, laba kotor perusahaan juga melonjak 54 persen menjadi Rp5,62 triliun, sementara laba usaha naik 67 persen menjadi Rp4,50 triliun. Penghasilan lain-lain ikut meningkat 15 persen menjadi Rp279,60 miliar.

Kenaikan ini berdampak langsung pada laba bersih per saham yang mencapai Rp141,77, naik 60 persen dibandingkan Rp88,69 pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi neraca, total aset ANTAM tercatat sebesar Rp63,30 triliun pada 1Q26, naik 31 persen dibandingkan Rp48,30 triliun di 1Q25. Nilai ekuitas juga tumbuh 17 persen menjadi Rp40,41 triliun, sementara posisi kas dan setara kas meningkat 31 persen menjadi Rp9,04 triliun.

Di lini pendapatan, ANTAM mencatat penjualan bersih sebesar Rp29,32 triliun, naik 12 persen dari Rp26,15 triliun pada 1Q25. Menariknya, kontribusi pasar domestik mendominasi hingga 97 persen dari total penjualan.

“Implementasi strategi operasional yang tangguh serta manajemen keuangan yang disiplin dan prudent telah mendorong penguatan kinerja secara berkelanjutan, sehingga memberikan imbal hasil yang positif dan nilai tambah bagi para pemegang saham,” katanya.

Kalau dilihat per segmen, emas masih jadi tulang punggung utama dengan kontribusi 81 persen terhadap total penjualan. Nilainya mencapai Rp23,89 triliun, naik 11 persen dari Rp21,61 triliun pada 1Q25, dengan volume penjualan mencapai 8.464 kg.

Untuk menjaga pasokan emas tetap stabil, ANTAM juga telah menandatangani Gold Sales & Purchase Agreement (GSPA) dengan Merdeka Grup pada 4 Maret 2026.

Sementara itu, segmen nikel menyumbang 15 persen atau Rp4,47 triliun terhadap total penjualan, meningkat 19 persen dari tahun sebelumnya. Produksi bijih nikel mencapai 3,88 juta wmt, dengan penjualan 3,40 juta wmt yang seluruhnya terserap di pasar domestik.

Di sisi lain, produksi feronikel tercatat 3.976 TNi dengan volume penjualan 2.803 TNi yang seluruhnya ditujukan untuk ekspor.

Untuk segmen bauksit dan alumina, kontribusinya mencapai 3 persen dengan nilai Rp879,14 miliar, naik 24 persen dari Rp708,75 miliar pada 1Q25. Produksi bauksit mencapai 628.785 wmt dan alumina 49.566 ton, dengan volume penjualan masing-masing 593.476 wmt dan 49.072 ton.

Dengan performa ini, ANTAM menunjukkan bahwa strategi operasional yang disiplin dan adaptif tetap jadi kunci untuk bertahan sekaligus tumbuh, bahkan di tengah kondisi global yang tidak pasti.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka