Ilmuwan AS Bongkar “Peta Bau” di Hidung, Buka Peluang Terapi Baru

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Para peneliti dari Amerika Serikat berhasil menciptakan peta terperinci pertama untuk reseptor penciuman di hidung. Temuan ini jadi langkah besar dalam memahami cara kerja indra penciuman, bahkan mulai mendekati kemajuan yang sebelumnya sudah dicapai pada indra penglihatan, pendengaran, dan peraba. Studi ini dipublikasikan di jurnal Cell, seperti dilaporkan Xinhua.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menemukan bahwa reseptor penciuman ternyata tidak tersebar secara acak seperti yang selama ini dipercaya. Sebaliknya, reseptor ini tersusun rapi dalam bentuk pita-pita rapat yang saling tumpang tindih berdasarkan jenisnya.

Temuan ini membuka wawasan baru sekaligus menjadi dasar penting untuk pengembangan terapi di masa depan, khususnya bagi orang yang mengalami gangguan kehilangan penciuman.

Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Harvard Medical School dengan menggunakan tikus sebagai objek studi. Mereka memetakan lebih dari 1.000 jenis reseptor penciuman dengan menggabungkan teknik sequencing sel tunggal dan transkriptomik spasial.

Secara keseluruhan, sekitar 5,5 juta neuron dianalisis dari lebih dari 300 ekor tikus. Hasilnya menunjukkan bahwa neuron dengan jenis reseptor berbeda memiliki pola organisasi yang sangat terstruktur, membentuk pita horizontal dari bagian atas hingga bawah rongga hidung.

"Hasil kami memberikan keteraturan pada sistem yang sebelumnya dianggap tidak memiliki keteraturan, yang secara konseptual mengubah cara kita berpikir tentang cara kerja sistem ini," ujar Sandeep Robert Datta, profesor neurobiologi di Harvard Medical School sekaligus penulis senior studi tersebut.

Menariknya lagi, peta reseptor di hidung ini ternyata punya keterkaitan dengan peta pemrosesan penciuman di otak, tepatnya di bulbus olfaktorius. Hal ini memberi gambaran lebih jelas tentang bagaimana informasi bau dikirim dan diproses oleh otak.

Datta menambahkan, peta penciuman ini bisa menjadi fondasi penting bagi para ilmuwan untuk mengembangkan terapi gangguan penciuman, yang hingga saat ini masih memiliki pilihan penanganan yang terbatas.

Dengan temuan ini, pemahaman tentang cara kita mencium bau tidak lagi sekadar teori, tapi mulai masuk ke level yang lebih detail dan terstruktur.

Sumber: Xinhua

TAG:
Bagikan

Mungkin Kamu Suka