Yang jauh lebih penting adalah bagaimana negara mulai membangun sistem transportasi yang mampu mengantisipasi bahaya sebelum terlambat
Jakarta (KABARIN) - Kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Bekasi Timur beberapa waktu lalu menjadi pengingat keras bahwa keselamatan perkeretaapian tidak lagi cukup mengandalkan sistem konvensional dan respons manual di lapangan.
Rangkaian peristiwa yang bermula dari gangguan di perlintasan sebidang hingga berujung tabrakan antarkereta menunjukkan betapa cepat situasi darurat dapat berkembang menjadi tragedi ketika informasi risiko tidak tersampaikan secara real time kepada seluruh sistem perjalanan kereta.
Maka di tengah lalu lintas kereta yang semakin padat dan mobilitas masyarakat yang terus meningkat, kebutuhan terhadap sistem peringatan dini terintegrasi menjadi semakin mendesak agar potensi bahaya dapat dideteksi lebih awal dan direspons dalam hitungan detik sebelum berubah menjadi kecelakaan besar.
Selama ini, banyak masyarakat memandang kecelakaan kereta api sebagai peristiwa yang muncul tiba-tiba akibat kelalaian manusia atau gangguan teknis sesaat.
Padahal dalam banyak kasus, kecelakaan sering kali diawali oleh rangkaian sinyal risiko yang sebenarnya dapat dikenali lebih awal apabila sistem deteksi dan komunikasi keselamatan bekerja lebih cepat.
Ketika kereta mendekati titik rawan, ketika ada kendaraan mogok di atas rel, ketika terjadi gangguan di emplasemen stasiun, atau ketika terdapat kereta berhenti luar biasa di petak jalan, waktu menjadi faktor yang sangat menentukan.
Selisih beberapa detik saja dapat mempengaruhi keputusan pengereman, pengurangan kecepatan, hingga penyelamatan penumpang.
Karena itu, gagasan mengenai Integrated Early Warning System atau sistem peringatan dini darurat yang terintegrasi harus segera dibicarakan lebih serius.
Sistem seperti ini pada dasarnya berupaya mengubah pendekatan keselamatan dari yang sebelumnya bersifat reaktif menjadi preventif.
Yang berarti bahwa fokus tidak lagi hanya pada penanganan setelah insiden terjadi, melainkan pada bagaimana risiko dapat dikenali lebih awal sehingga peluang kecelakaan bisa ditekan semaksimal mungkin.
Keselamatan perjalanan
Sejumlah pihak menyampaikan usulan dan rekomendasi untuk memperkuat jaminan keselamatan perjalanan kereta api.
Salah satunya Pengurus Pusat Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (PP IKA ITS) yang menyampaikan rekomendasi kepada Kementerian Perhubungan dan PT Kereta Api Indonesia terkait upaya menempatkan teknologi komunikasi dan telemetri sebagai bagian penting dari keselamatan perjalanan kereta.
Sistem yang diusulkan mengadopsi filosofi Andon, sebuah konsep yang dikenal luas dalam dunia industri modern sebagai mekanisme pemberian sinyal cepat ketika terjadi gangguan operasional.
Dalam konteks perkeretaapian, pendekatan tersebut diterjemahkan ke dalam sistem peringatan yang dapat langsung dikirim ke kabin masinis melalui cabin signaling ketika kereta mendekati lokasi berbahaya.
Pendekatan ini penting karena dalam sistem transportasi modern, kecepatan informasi sering kali sama pentingnya dengan kualitas infrastruktur fisik.
Rel yang baik, lokomotif yang andal, dan persinyalan yang modern tetap membutuhkan sistem komunikasi yang mampu menjembatani kondisi darurat secara real time.
Ketika peringatan dapat diterima langsung oleh masinis sebelum memasuki area berisiko, maka ruang untuk mengambil keputusan menjadi lebih besar. Dalam situasi darurat, tambahan waktu reaksi sekecil apa pun memiliki nilai keselamatan yang sangat besar.
Peringatan dini yang terintegrasi langsung ke kabin masinis akan memberikan tambahan waktu reaksi dalam kondisi darurat sehingga potensi kecelakaan dapat ditekan.
Hal ini memperlihatkan inti utama dari pengembangan sistem bukan sekadar modernisasi teknologi, melainkan penyelamatan manusia.
Dalam sistem transportasi publik, keselamatan memang harus menjadi prioritas tertinggi karena menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap moda transportasi itu sendiri.
Hal lain yang patut dicermati adalah bagaimana usulan tersebut tidak hanya berbicara mengenai perangkat di kereta, tetapi juga mengenai integrasi antarsistem.
Sekretaris Jenderal PP IKA ITS, Herman Prasetyo, menyatakan, sistem ini dirancang terhubung dengan Pengatur Perjalanan Kereta Api di stasiun terdekat serta sistem deteksi rintangan di perlintasan sebidang.
Pendekatan terintegrasi seperti ini menunjukkan keselamatan modern tidak dapat berjalan secara parsial. Semua elemen harus saling terhubung dalam satu ekosistem informasi yang mampu bergerak cepat dan akurat.
Di Indonesia, tantangan keselamatan perlintasan sebidang memang masih menjadi pekerjaan besar. Banyak perlintasan yang beririsan langsung dengan jalan raya, kawasan padat penduduk, maupun jalur kendaraan berat.
Tidak sedikit kecelakaan terjadi akibat kendaraan mogok atau pelanggaran pengguna jalan yang memaksa melintas ketika kereta mendekat.
Dalam kondisi seperti ini, sistem peringatan otomatis yang langsung memberi sinyal kepada masinis berpotensi menjadi lapisan perlindungan tambahan yang sangat penting.
Teknologi keselamatan
Lebih jauh lagi, gagasan mengenai sistem peringatan dini sebenarnya mencerminkan perubahan cara pandang terhadap pembangunan transportasi nasional.
Selama bertahun-tahun, ukuran kemajuan perkeretaapian sering kali dilihat dari pembangunan jalur baru, peningkatan kecepatan kereta, atau modernisasi stasiun.
Semua itu memang penting, tetapi perkembangan teknologi keselamatan tidak boleh tertinggal. Sebab semakin cepat dan padat lalu lintas kereta, semakin tinggi pula kebutuhan terhadap sistem mitigasi risiko yang lebih canggih.
Dalam konteks global, banyak negara maju mulai mengembangkan sistem keselamatan berbasis komunikasi digital dan sensor otomatis untuk memperkuat pengawasan perjalanan kereta.
Teknologi semacam ini memungkinkan deteksi gangguan berlangsung lebih cepat dibandingkan mengandalkan laporan manual. Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar untuk ikut bergerak ke arah tersebut, terlebih industri nasional juga memiliki kapasitas untuk terlibat dalam pengembangan teknologi transportasi.
Karena itu, usulan pelibatan PT INKA dan PT LEN Industri dalam pengembangan purwarupa sistem menjadi langkah yang menarik.
Selain mendukung penguatan keselamatan, keterlibatan industri dalam negeri juga membuka ruang pengembangan teknologi nasional yang lebih mandiri.
Di tengah persaingan global yang semakin ketat, kemampuan membangun sistem transportasi berbasis inovasi domestik akan menjadi nilai strategis tersendiri.
Yang juga penting, pembahasan mengenai keselamatan kereta api seharusnya tidak hanya muncul ketika terjadi kecelakaan besar. Keselamatan perlu ditempatkan sebagai budaya bersama yang terus diperkuat melalui evaluasi, inovasi, dan keberanian memperbaiki sistem sebelum terjadi tragedi.
Upaya menuju target zero accident di sektor perkeretaapian tidak mungkin tercapai hanya dengan mengandalkan prosedur lama. Dibutuhkan pembaruan cara berpikir yang menempatkan teknologi sebagai alat bantu utama dalam membaca risiko secara cepat dan presisi.
Substansi terpenting dari gagasan sistem peringatan dini terintegrasi bukan sekadar soal perangkat elektronik atau teknologi radio yang dipasang di kereta.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana negara mulai membangun sistem transportasi yang mampu mengantisipasi bahaya sebelum terlambat.
Keselamatan bukan hanya tentang bagaimana manusia bertindak setelah keadaan darurat muncul, tetapi bagaimana teknologi membantu manusia mencegah keadaan darurat itu berkembang menjadi bencana.
*) Heru Hermawan N, Wakil Ketua Umum PP IKA ITS
Sumber: ANTARA