Ternyata Masalah Gigi Bisa Pengaruhi Kesehatan Jantung Anak

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Yovi Kurniawati menyampaikan bahwa masalah gigi bisa mempengaruhi kesehatan jantung anak.

Pada acara temu media di Jakarta, Kamis, dr. Yovi Kurniawati, Sp. J.P, Subs. K.Ped.P.J.B (K) mengatakan bahwa lubang pada gigi akan memudahkan kuman masuk ke dalam tubuh dan kemudian mengikuti aliran darah.

Kuman-kuman itu selanjutnya bisa masuk dan menempel pada bagian jantung serta memunculkan vegetasi, kelompok mikroba dan fibrin serta trombosit yang berkumpul menjadi satu di bagian katup jantung.

"Vegetasi itu biasanya akan berjalan terus sampai kalau dia (kuman) tidak bisa ditangani," kata dr. Yovi.

Dokter lulusan Universitas Indonesia itu mengatakan bahwa vegetasi bisa menyebabkan kerusakan katup jantung.

"Karena dia sering menempel di katup sehingga katupnya rusak. Katupnya itu bocornya berat biasanya kalau dia infektif endokarditis, sehingga keluhannya biasanya anaknya demam tinggi, sesak, kelihatan lethargic (lesu), lemas," katanya.

Penilaian dan penanganan masalah vegetasi pada jantung, menurut dr. Yovi, biasanya dilakukan dengan melibatkan dokter ahli telinga, hidung, dan tenggorokan.

"Biasanya kita akan memberikan obat antibiotik, karena dia itu infeksi. Pemberiannya biasanya cukup lama, biasanya empat sampai enam minggu minimal," katanya.

Ia menyampaikan bahwa anak-anak dengan penyakit jantung bawaan biasanya akan diminta menjalani pemeriksaan gigi untuk mendukung penilaian risiko komplikasi.

"Sebelum terjadi infeksi kita sudah harus suruh anak ini kontrol, apakah giginya teratur, ada tidak yang bolong, berlubang, sehingga (kalau ada) dia harus dirawat jangan sampai terjadi infeksi berat," katanya.

Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 4,8 juta anak di 48.000 sekolah telah menjalani pemeriksaan kesehatan selama periode 1 Januari hingga 3 Mei 2026.

Hasil pemeriksaan itu menunjukkan bahwa sekitar 1,1 juta anak mengalami masalah gigi berlubang, 663.000 anak mengalami peningkatan tekanan darah, serta 239.000 anak mengalami penumpukan kotoran di telinga.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka