Padahal ada sebuah art di balik bespoke tailoring itu. Tugas tailor itu apa? Memperbaiki. Jadi kalau orang gemuk harus terlihat lebih ramping dan yang kurus harus terlihat lebih berisi. Itulah esensi sebuah tailor, yang hampir hilang dan sempat direm
Jakarta (KABARIN) - Di tengah perkembangan industri fesyen yang semakin didominasi oleh konsep pakaian massal (fast fashion) dan pakaian siap pakai (ready-to-wear), keberadaan bespoke tailoring atau layanan pembuatan pakaian —terutama suit— dengan tingkat kustomisasi tertinggi ternyata tidak benar-benar ditinggalkan.
Di saat pakaian diproduksi secara massal dengan mengutamakan kecepatan dan efisiensi, bespoke tailoring tetap mempertahankan nilai yang tidak dapat digantikan oleh tren sesaat.
Bespoke menawarkan pengalaman yang berbeda. Setiap pakaian dibuat dari nol (0) sesuai dengan bentuk tubuh, aktivitas, hingga karakter pemakainya. Karena itu, tailoring bukan sekadar proses menjahit pakaian, melainkan seni memahami manusia yang diterjemahkan ke dalam detail-detail khusus. Nilai personal, ketelitian, dan warisan craftmanship inilah yang membuat bespoke tailoring memiliki tempat tersendiri di tengah industri fesyen modern.
Tidak banyak rumah tailoring yang mampu menjaga nilai tersebut secara konsisten lintas generasi, terutama di tengah perubahan tren dan perilaku konsumen yang terus berkembang.
Di Indonesia, salah satu yang tetap menjaga nilai tersebut adalah Wong Hang. Berdiri lebih dari sembilan dekade, Wong Hang menjadi contoh bagaimana sebuah bisnis tradisional dapat tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Menurut Samuel Wongso, generasi keempat penerus bisnis legendaris Wong Hang, esensi tailoring terletak pada kemampuan menciptakan keseimbangan antara estetika, kenyamanan, dan karakter seseorang.
Bagi Samuel, pakaian yang baik bukan hanya soal potongan atau bahan, tetapi juga bagaimana busana mampu menyesuaikan diri dengan bentuk tubuh dan kepribadian pemakainya. Menurutnya, tugas tailor adalah memahami bagaimana pakaian bisa membuat seseorang terlihat lebih proporsional, nyaman, dan percaya diri.
“Padahal ada sebuah art di balik bespoke tailoring itu. Tugas tailor itu apa? Memperbaiki. Jadi kalau orang gemuk harus terlihat lebih ramping dan yang kurus harus terlihat lebih berisi. Itulah esensi sebuah tailor, yang hampir hilang dan sempat diremehkan,” kata Samuel yang bergabung di Wong Hong sejak 2011 itu.
Pandangan tersebut tidak muncul begitu saja, melainkan lahir dari pengalaman panjang tailoring yang diwariskan turun-temurun di keluarga Wong Hang.
Selama puluhan tahun, rumah tailoring ini mempertahankan filosofi bahwa pakaian bukan sekadar penampilan, tetapi juga bentuk pelayanan personal yang memahami karakter setiap pelanggan.
Berawal dari Surabaya pada 1933
Perjalanan Wong Hang dimulai ketika keluarga pendirinya datang dari Guangzhou, China, ke Indonesia pada 1933. Saat itu, Surabaya menjadi salah satu pusat perdagangan yang dipenuhi masyarakat Eropa, Jepang, dan Tionghoa yang terbiasa mengenakan suit dalam aktivitas sehari-hari.
Melihat kebutuhan masyarakat saat itu, keluarga Wong Hang mulai membangun bisnis tailoring dengan pendekatan yang sangat personal. Mereka tidak sekadar membuat pakaian, tetapi juga memperhatikan proporsi tubuh, kenyamanan, hingga fungsi pakaian bagi setiap pelanggan.
Nilai tersebut kemudian diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi fondasi yang membuat Wong Hang mampu bertahan lebih dari 90 tahun dan kini berada di 16 titik di kota-kota besar.
Samuel menjelaskan, sejak kecil seluruh anggota keluarga sudah diperkenalkan pada dasar-dasar tailoring, mulai dari mengukur tubuh, membuat pola, menggunting kain, hingga memahami karakter kain sebagai bagian dari proses menjaga kualitas dan tradisi keluarga.
“Nenek saya selalu bilang, mau jadi apa pun boleh, tapi karena keluarga kami seorang tailor, minimal harus punya skil menjahit. Kata nenek, ke mana pun pergi, kalau punya meteran dan jarum, kita tetap bisa hidup,” kata Samuel yang masuk dalam sejumlah daftar figur muda berpengaruh tersebut.
Bertahan di tengah perubahan industri fesyen
Samuel mengakui industri tailoring juga sempat mengalami perlambatan, terutama ketika tren fesyen berubah dan generasi muda mulai menganggap tailor identik dengan gaya lama atau terlalu formal. Pada awal 2010-an, tren pakaian oversized dan gaya kasual membuat banyak orang meninggalkan setelan klasik.
Namun, Wong Hang memilih tetap mempertahankan identitasnya dengan fokus pada potongan jas klasik bergaya Eropa dan Inggris yang dinilai lebih timeless. Menurut Samuel, tren fesyen dapat berubah dalam hitungan tahun, tetapi pakaian dengan potongan yang presisi dan proporsional akan selalu relevan.
Karena itu, Wong Hang tidak hanya menjual pakaian, tetapi juga menekankan kualitas material dan teknik tailoring agar suit dapat dipakai dalam jangka panjang serta tetap bisa disesuaikan ketika bentuk tubuh pelanggan berubah seiring waktu.
Komitmen menjaga kualitas dan kenyamanan pelanggan juga diwujudkan Wong Hang melalui layanan lifetime guarantee untuk setiap suit yang dibuat. Samuel mengatakan pelanggan dapat melakukan penyesuaian ukuran secara gratis seumur hidup, baik ketika berat badan bertambah maupun berkurang.
Menurutnya, penyesuaian tersebut bahkan bisa dilakukan hingga sekitar delapan sentimeter ke atas atau ke bawah, yang setara dengan perubahan berat badan sekitar tujuh hingga delapan kilogram.
“Layanan tersebut sebetulnya tidak mudah diterapkan karena membutuhkan kualitas bahan, teknik tailoring, dan pola jahitan yang presisi agar pakaian tetap dapat disesuaikan tanpa merusak bentuk aslinya,” kata pria kelahiran 1991 yang pernah mengikuti short course di Hong Kong itu.
Pendekatan personal inilah yang menjadi salah satu alasan Wong Hang tetap dipercaya berbagai kalangan, mulai dari profesional, pengusaha, pejabat, figur publik, hingga tokoh nasional.
Selain mempertahankan kualitas craftsmanship, Wong Hang juga terus beradaptasi dengan perkembangan zaman melalui pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pengembangan bisnis tailoring keluarganya. Teknologi tersebut dapat membantu memindai ukuran tubuh pelanggan secara otomatis dan langsung terintegrasi ke sistem pembuatan pola.
Namun menurut Samuel, pengembangan AI ini tidak difokuskan untuk layanan bespoke Wong Hang yang tetap mengutamakan sentuhan personal dan pengukuran manual, melainkan untuk lini Wong Hang Bersaudara (WHB) yang memproduksi pakaian jadi seperti seragam dalam jumlah besar.
Dengan sistem tersebut, proses pengukuran tidak lagi harus dilakukan satu per satu karena data tubuh dapat langsung diproses menjadi pola made-to-measure secara lebih cepat dan efisien.
Ketika suit menjadi identitas personal
Samuel mengatakan industri tailoring sempat mengalami masa ketika suit identik hanya untuk kebutuhan pernikahan atau acara formal tertentu. Menurutnya, pada periode tersebut banyak orang menganggap suit terlalu kaku dan tidak pas untuk digunakan sehari-hari.
Karena itu, ia dengan konsisten membangun pengaruh melalui gaya personalnya sehari-hari. Samuel mengaku terbiasa mengenakan suit atau blazer dalam berbagai kesempatan, termasuk saat bekerja maupun menghadiri acara informal.
Baginya, mengenakan pakaian yang baik dan sesuai dengan acara juga merupakan bentuk penghormatan kepada orang yang mengundangnya.
Ia juga mulai memperkenalkan penggunaan tuxedo di berbagai acara formal pada saat gaya tersebut belum umum di Indonesia.
“Saya selalu pakai suit wherever I go, kemana pun. Meeting juga pakai blazer. Waktu itu yang namanya tuxedo, itu belum common di Indonesia,” kata si penyuka semua warna selain hitam itu.
Saat itu, menurut Samuel, mayoritas model suit yang populer masih bergaya Amerika dengan siluet longgar. Sementara Wong Hang konsisten membawa pendekatan tailoring bergaya Eropa yang lebih presisi dan mengikuti bentuk tubuh. Meski sempat dianggap berlebihan atau berbeda, pendekatan tersebut perlahan mulai diterima dan memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap suit dan bespoke tailoring.
“Orang masih banyak yang kalau pakai tuxedo itu seperti pelayan. Tapi karena kita punya knowledge, kita mau influence, kita harus tau kapan tuxedo dipakai,” kata anak kedua dari empat bersaudara itu.
Selain gaya dan potongan, Wong Hang juga terus mengikuti perkembangan material kain premium dunia. Samuel menjelaskan Wong Hang menjadi official tailor di Indonesia untuk sejumlah merek kain internasional seperti Loro Piana, Ermenegildo Zegna, Cerruti, hingga Holland & Sherry yang juga banyak digunakan kalangan kerajaan dan rumah mode dunia.
Menurutnya, perkembangan teknologi kain menjadi salah satu pembeda utama antara suit tailoring dan pakaian produksi massal. Ia mencontohkan inovasi kain waterproof yang memungkinkan suit tetap nyaman digunakan dan tidak mudah meninggalkan noda ketika terkena air.
“Dari Cerruti waktu itu pertama kali, dia mengeluarkan suit yang waterproof. Jadi kain-kain yang seperti itu, itu adalah pembeda antara kita beli di mal dengan beli di tailor,” kata lulusan fashion business La Salle College itu.
Sumber: ANTARA