Washington (KABARIN) - Setelah jaksa federal AS menjatuhkan dakwaan terhadap pemimpin Revolusi Kuba Raul Castro dan sebuah kapal induk AS tiba di Karibia, Presiden AS Donald Trump pada Rabu (20/5) mengatakan "tidak akan ada eskalasi" ke Kuba.
"Tidak akan ada eskalasi. Saya rasa tidak perlu," kata Trump kepada wartawan. Dia juga mengulangi apa yang telah dia katakan sebelumnya bahwa AS "membebaskan Kuba".
Pernyataan Trump juga muncul tak lama setelah Komando Selatan AS mengumumkan bahwa Gugus Tempur Kapal Induk Nimitz, yang meliputi kapal induk, sayap udara kapal induk tersebut, dan setidaknya satu kapal perusak rudal berpemandu, tiba di Karibia.
"Kapal induk USS Nimitz (CVN 68), Sayap Udara Kapal Induk 17 (CVW-17) yang ada di dalam kapal induk tersebut, USS Gridley (DDG 101), dan USNS Patuxent (T-AO 201) merupakan lambang kesiapan dan kehadiran, jangkauan dan daya hancur yang tak tertandingi, serta keunggulan strategis," kata Komando Selatan AS dalam sebuah unggahan di X pada Rabu.
Sebelumnya pada Rabu yang sama, dewan juri dari Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Selatan Florida mendakwa Raul Castro atas dugaan perannya dalam memerintahkan penembakan jatuh dua pesawat yang dioperasikan oleh kelompok pengasingan Kuba di AS yang bernama "Brothers to the Rescue" pada 1996. Castro, yang lahir pada Juni 1931, menjabat sebagai menteri Angkatan Bersenjata Revolusioner Kuba pada saat kejadian tersebut.
Kalangan analis di AS memandang dakwaan tersebut berpotensi dijadikan alasan bagi intervensi militer AS di Kuba, mengingat kejadian penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang didakwa sebelum pasukan AS menyerbu Caracas dan membawanya paksa ke New York untuk diadili.
Pemerintahan Trump memperketat sanksi terhadap Kuba setelah penangkapan Maduro pada 3 Januari, membatasi akses Kuba terhadap impor bahan bakar di saat negara berbentuk pulau itu bergulat dengan krisis kemanusiaan dan energi memburuk yang ditandai dengan kelangkaan bahan bakar yang parah dan pemadaman listrik skala nasional berkepanjangan.
Selain itu, Trump baru-baru ini mengisyaratkan bahwa target operasi militer AS selanjutnya adalah Kuba, setelah pertempuran dengan Iran berakhir.
Dalam menanggapi dakwaan AS terhadap Raul Castro, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengatakan pada Rabu bahwa tuduhan AS hanyalah "manuver politik" yang "sama sekali tidak memiliki dasar hukum".
Serangan militer AS apa pun terhadap Kuba akan menyebabkan "pertumpahan darah dengan konsekuensi yang tak terbayangkan" serta dampak yang menghancurkan terhadap perdamaian dan stabilitas di Amerika Latin dan Karibia, ucap Miguel memperingatkan pada Senin (18/5).
Baca juga: AS Dakwa Mantan Presiden Kuba atas Kasus Pembunuhan dan Pesawat Jatuh
Sumber: Xinhua