Prabowo Undang Pejabat Ekonomi Era SBY untuk Bahas Pengalaman Krisis 2008

waktu baca 2 menit

Saya didampingi oleh Pak Menteri Keuangan Pak Purbaya, tadi mendampingi Bapak Presiden menerima beberapa tokoh yang pernah menjadi menteri atau gubernur Bank Indonesia

Jakarta (KABARIN) - Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah tokoh ekonomi era Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Istana Kepresidenan Jakarta untuk berbagi pengalaman dalam menghadapi krisis ekonomi, khususnya krisis global 2008.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan dirinya bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa turut mendampingi Presiden dalam pertemuan tersebut.

“Saya didampingi oleh Pak Menteri Keuangan Pak Purbaya, tadi mendampingi Bapak Presiden menerima beberapa tokoh yang pernah menjadi menteri atau gubernur Bank Indonesia,” kata Airlangga di Jakarta, Jumat.

Sejumlah tokoh yang hadir antara lain mantan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah, mantan Kepala Bappenas Paskah Suzetta, serta mantan Wakil Kepala Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo.

Menurut Airlangga, para tokoh tersebut menceritakan pengalaman mereka saat menghadapi tekanan ekonomi pada periode 2004 hingga 2014, termasuk dinamika krisis global.

Salah satu yang dibahas adalah lonjakan inflasi dan gejolak ekonomi akibat kenaikan harga minyak dunia pada pertengahan 2000an yang sempat menekan perekonomian nasional.

Airlangga menyebut kondisi ekonomi saat ini relatif lebih stabil dibandingkan periode tersebut, dengan fundamental yang lebih kuat serta depresiasi rupiah yang lebih terbatas.

“Kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat, dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen. Jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya. Dari situ sebetulnya kita belajar bagaimana mengantisipasi dan apa yang diperlukan untuk menghadapi situasi-situasi ke depan,” ujarnya.

Ia menambahkan Presiden juga menekankan pentingnya pemantauan regulasi sektor keuangan serta penguatan sistem perbankan nasional agar tetap prudent dan stabil.

Pemerintah, kata Airlangga, juga akan mengkaji penguatan permodalan perbankan mengingat struktur industri perbankan di Indonesia yang cukup banyak dan perlu konsolidasi lebih lanjut.

Sementara itu, Burhanuddin Abdullah menilai pertemuan tersebut menjadi ruang untuk mengulas kembali pengalaman masa lalu sebagai bahan pembelajaran menghadapi tantangan ekonomi saat ini.

Ia menyoroti bahwa pada 2005, kenaikan harga bahan bakar minyak dan lonjakan harga minyak dunia berdampak besar pada inflasi dan kondisi ekonomi nasional.

Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi acuan dalam menyusun strategi kebijakan ekonomi ke depan, termasuk koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter agar lebih solid dan terintegrasi.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka