Bahlil Pastikan Biodiesel B50 Aman Digunakan pada Mobil Pabrikan Asia hingga Eropa

waktu baca 2 menit

Tidak hanya dites di Toyota, di Mercedes pun oke. Jadi, ini dari Asia sampai Eropa semua kita bikin.

Karawang, Jawa Barat (KABARIN) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan kualitas biodiesel B50 aman digunakan pada kendaraan produksi pabrikan otomotif asal Asia maupun Eropa setelah melalui serangkaian pengujian.

“Tidak hanya dites di Toyota, di Mercedes pun oke. Jadi, ini dari Asia sampai Eropa semua kita bikin,” ujar Bahlil saat peluncuran Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Karawang, Jawa Barat, Kamis.

Bahlil menjelaskan pengujian B50 telah dilakukan selama sekitar enam bulan. Berdasarkan hasil uji tersebut, performa B50 dinilai lebih baik dibandingkan biodiesel B40.

Menurutnya, salah satu indikator peningkatan kualitas terlihat dari usia pakai filter kendaraan selama uji jalan.

Pada penggunaan B40, filter umumnya perlu diganti setelah kendaraan menempuh jarak sekitar 10 ribu hingga 20 ribu kilometer. Sementara pada pengujian B50, terdapat kendaraan yang belum memerlukan penggantian filter meski telah digunakan hingga 40 ribu kilometer.

“Waktu saya jadi sopir angkot, belum ada B50 ini. Karena itu, saya memberikan apresiasi kepada teman-teman yang melakukan ini secara teknis,” kata Bahlil.

Presiden Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis.

Pelaksanaan program tersebut mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 tentang Pengusahaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati serta Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 mengenai kewajiban pencampuran biodiesel sebesar 50 persen ke dalam bahan bakar minyak jenis solar.

Program B50 mewajibkan badan usaha bahan bakar nabati, badan usaha bahan bakar minyak, dan badan usaha penyalur menerapkan standar mutu sesuai spesifikasi yang telah ditetapkan pemerintah.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM), meningkatkan nilai tambah sumber daya alam nasional, serta memperkuat ketahanan energi dan ekonomi Indonesia.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka