Hizbullah Disebut Siap Lakukan Gencatan Senjata Penuh dengan Israel

waktu baca 2 menit

Washington (KABARIN) - Harapan untuk meredakan ketegangan di perbatasan Lebanon dan Israel kembali muncul. Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, disebut telah menyampaikan bahwa Hizbullah siap melakukan gencatan senjata penuh dan segera dengan Israel.

Informasi tersebut dilaporkan media Amerika Serikat, Axios, pada Senin (1/6), dan diperkuat oleh pernyataan penasihat utama Berri, Ali Hamdan.

Menurut Hamdan, pesan tersebut telah disampaikan langsung kepada Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui Duta Besar AS untuk Lebanon, Michel Issa.

"Saya menelepon duta besar AS untuk Beirut, Michel Issa, pada Minggu (31/5) dan mengatakan kepadanya atas nama Ketua Parlemen Berri bahwa Hizbullah akan siap untuk berkomitmen sepenuhnya terhadap gencatan senjata yang menyeluruh, dan kami siap untuk menjaminnya," kata Hamdan kepada Axios.

Dalam usulannya, Berri menginginkan gencatan senjata yang berlaku di seluruh lini, baik di darat, udara, maupun laut. Selain itu, ia juga meminta Israel berkomitmen menghentikan penghancuran rumah-rumah warga di wilayah Lebanon selatan yang selama ini terdampak konflik.

Langkah tersebut dinilai sebagai upaya untuk menciptakan stabilitas dan mengurangi eskalasi yang terus berlangsung di kawasan perbatasan kedua negara.

Meski demikian, laporan Axios menyebut bahwa sejumlah pejabat Amerika Serikat meragukan kemungkinan proposal tersebut diterima oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Mengutip sumber yang mengetahui pembahasan itu, para pejabat AS telah memberi tahu Berri bahwa mereka tidak yakin Netanyahu akan menyetujui usulan gencatan senjata tersebut.

Keraguan juga datang dari pihak Amerika Serikat dan Israel terkait kemampuan Berri dalam menjamin kepatuhan Hizbullah terhadap kesepakatan yang mungkin tercapai.

Meski begitu, Berri tetap dianggap sebagai salah satu tokoh politik Syiah paling berpengaruh di Lebanon. Ia juga dikenal memiliki hubungan yang dekat dengan Hizbullah, sehingga dinilai memiliki peran penting dalam berbagai upaya mediasi dan komunikasi politik di negara tersebut.

Di tengah perkembangan itu, kantor berita semiresmi Iran, Tasnim News Agency, melaporkan bahwa Teheran telah menghentikan sementara pertukaran pesan dengan Washington melalui pihak mediator.

Langkah tersebut disebut sebagai bentuk protes Iran terhadap tindakan militer Israel yang masih berlangsung di Lebanon.

Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun peluang gencatan senjata mulai dibicarakan, jalan menuju perdamaian yang lebih permanen di kawasan masih menghadapi berbagai tantangan politik dan diplomatik dari banyak pihak yang terlibat.

Sumber: Xinhua

Bagikan

Mungkin Kamu Suka