Pengembangan Bioenergi Berpotensi Ciptakan 150 Ribu Lapangan Kerja Baru

waktu baca 4 menit

Reduksi emisinya sekitar 12 juta ton CO2 dan potensi tenaga kerja yang tercipta bisa mencapai 150 ribu orang dalam tiga sampai empat tahun

Jakarta (KABARIN) - Pengembangan bioenergi di Indonesia bukan hanya berpotensi mendukung transisi energi bersih, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang besar. PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menyebut sektor ini berpotensi menciptakan hingga 150 ribu lapangan kerja baru dalam tiga hingga empat tahun ke depan.

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan pemanfaatan biomassa secara luas di sektor ketenagalistrikan dapat memberikan dampak positif dari sisi ekonomi, sosial, maupun lingkungan.

"Kalau implementasi biomassa mencapai 10 juta ton per tahun di pembangkit, nilai ekonominya bisa mencapai Rp11 triliun. Reduksi emisinya sekitar 12 juta ton CO2 dan potensi tenaga kerja yang tercipta bisa mencapai 150 ribu orang dalam tiga sampai empat tahun," ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Hokkop dalam Seminar Series #3 bertajuk "Utilisasi BioEnergy di PLN untuk Mendukung Ketahanan Energi Indonesia" yang digelar di Institut Teknologi PLN, Jakarta.

Menurut dia, biomassa menjadi salah satu solusi transisi energi yang paling realistis karena dapat diterapkan lebih cepat melalui program co-firing di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Lewat skema co-firing, sebagian penggunaan batu bara digantikan dengan biomassa yang berasal dari limbah pertanian, perkebunan, kehutanan, hingga limbah organik lainnya.

"Bioenergi bukan untuk menggantikan pembangkit fosil secara total dalam waktu singkat, melainkan menjadi solusi transisi yang memungkinkan penurunan emisi secara bertahap tanpa mengganggu keandalan pasokan listrik nasional," jelasnya.

Saat ini PLN telah menerapkan teknologi co-firing biomassa di 52 PLTU yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Sepanjang 2025, pemanfaatan biomassa mencapai sekitar 2,35 juta ton. Angka tersebut berkontribusi terhadap pengurangan emisi sebesar 2,57 juta ton CO2 ekuivalen.

Untuk mendukung program tersebut, PLN memanfaatkan sedikitnya 14 jenis biomassa dengan rata-rata nilai kalor 3.152 kkal per kilogram. Beberapa di antaranya berasal dari cangkang sawit, sekam padi, bonggol jagung, serbuk gergaji, limbah kayu, hingga limbah rumah tangga yang telah diolah menjadi bahan bakar alternatif.

Hokkop juga mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi biomassa yang sangat besar, mencapai 83,4 juta ton per tahun.

Potensi terbesar berada di Sumatera dengan kapasitas sekitar 42,8 juta ton per tahun, disusul Kalimantan sebesar 18,9 juta ton dan Jawa sekitar 13,1 juta ton per tahun.

Meski demikian, pemanfaatan bioenergi di Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan potensi yang tersedia.

Saat ini konsumsi bioenergi nasional baru mencapai 0,35 gigajoule per kapita per tahun. Padahal, potensi yang dimiliki Indonesia mencapai 6,5 gigajoule per kapita per tahun.

"Indonesia memiliki sumber daya biomassa yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana membangun ekosistem pasok yang terintegrasi, sehingga potensi tersebut dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dan mendukung ketahanan energi nasional," ujar Hokkop.

Selain biomassa, PLN EPI juga mulai mengembangkan sumber energi terbarukan lain seperti biogas dan biohidrogen.

Salah satu proyek yang tengah dikembangkan adalah pemanfaatan gas metana dari limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME). Gas tersebut dapat diolah menjadi sumber energi alternatif pengganti gas alam.

"Metana memiliki potensi pemanasan global yang jauh lebih besar dibanding karbon dioksida. Dengan menangkap dan memanfaatkannya sebagai energi, kita tidak hanya menghasilkan energi bersih tetapi juga mengurangi emisi gas rumah kaca," katanya.

Untuk memperkuat pengelolaan sektor ini, PLN EPI juga tengah mengembangkan sistem digital berbasis kecerdasan buatan (AI) yang digunakan untuk memantau rantai pasok biomassa dan operasional co-firing di seluruh Indonesia.

Menurut Hokkop, pengembangan biomassa bukan hanya soal menghasilkan energi yang lebih ramah lingkungan. Sektor ini juga membuka peluang usaha baru mulai dari pengumpulan bahan baku, pengolahan biomassa, logistik, hingga pengembangan teknologi energi terbarukan.

Karena itu, PLN EPI terus mendorong keterlibatan masyarakat, petani, koperasi, kelompok usaha desa, hingga generasi muda agar ikut berperan dalam rantai pasok biomassa nasional.

"Transaksi bisnis biomassa nasional telah menunjukkan perkembangan positif dan menjadi peluang ekonomi baru yang menjanjikan bagi masyarakat," sebut Hokkop.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka